KASIH KARUNIA BAGI YANG BERSALAH (2 SAMUEL 19:23)
Seorang ayah memiliki dua anak
laki-laki. Anak yang bungsu tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala, suka
membantah, dan sering merasa tidak dihargai di rumah. Suatu hari, ia datang
kepada ayahnya dan berkata, “Ayah, berikan aku bagian warisan sekarang. Aku
ingin hidup bebas dan keluar dari rumah ini.”
Ayah itu terdiam. Ia tahu bahwa
hati anaknya sedang jauh darinya. Dengan sedih, ia memberikan bagian harta itu
kepada sang anak. Anak itu kemudian pergi meninggalkan rumah dengan hati yang
penuh kesombongan dan kemarahan. Ia merasa bebas, tetapi tidak menyadari bahwa
dirinya sedang menuju kehancuran.
Beberapa bulan berlalu. Uangnya
habis dan teman-temannya pergi meninggalkannya. Ia akhirnya bekerja di kandang
babi dan bahkan memakan makanan babi sesuatu yang sangat hina bagi dirinya.
Pada titik terendah dalam hidupnya, ia mulai sadar dan berkata dalam hati, “Apa
yang telah aku lakukan? Aku telah berdosa kepada ayahku.”
Dengan hati yang hancur, ia
memutuskan untuk pulang. Dalam hatinya ia berkata, “Aku tidak layak lagi
disebut anak. Aku hanya ingin menjadi pelayan di rumah ayahku.” Namun, yang
mengejutkan terjadi. Ketika ia masih jauh dari rumah, ayahnya telah berlari menyambutnya.
Ia tidak menampar atau memarahi anaknya, melainkan memeluk dan mencium dia
sambil berkata kepada para hamba, “Bawalah pakaian terbaik, cincin, dan sepatu.
Marilah kita berpesta, sebab anakku yang hilang telah pulang.”
Kisah kasih karunia ini juga
terlihat dalam kehidupan Raja Daud terhadap seorang bernama Simei. Setelah Daud
berhasil kembali ke takhta Yerusalem usai pemberontakan yang dilakukan oleh
anaknya sendiri, Absalom, datanglah Simei dari suku Benyamin. Ketika Daud
melarikan diri dari Yerusalem, Simei mengutuki Daud dengan keras, melemparinya
dengan batu, dan mengungkit masa lalunya yang berdosa (lihat 2 Samuel 16:5–13).
Simei memanfaatkan situasi untuk menghina raja yang sedang terpuruk.
Namun, ketika Daud kembali
dalam kemuliaannya sebagai raja, Simei gemetar ketakutan. Ia menyadari
kesalahannya dan datang memohon ampun kepada Daud (ayat 19–20). Ia bahkan
membawa seribu orang Benyamin bersamanya, mungkin untuk menunjukkan kesetiaan
dan pertobatannya.
Anak Zeruya, yaitu Abisai,
menyarankan agar Simei dihukum mati karena telah mengutuki orang yang diurapi
Tuhan (ayat 21). Namun Daud menjawab dengan luar biasa, “Apakah urusanmu dengan
aku, hai anak-anak Zeruya, sehingga kamu menjadi musuhku pada hari ini? Masakan
ada orang yang dihukum mati pada hari ini di Israel?” (ayat 22). Lalu datanglah
ayat kuncinya, “Engkau tidak akan mati.” Dan raja bersumpah kepadanya (ayat
23).
Simei memang bersalah, tetapi
Daud memilih untuk memberikan kasih karunia. Ia bisa saja membalas perbuatan
Simei, tetapi ia memilih untuk mengampuni dan tidak menuntut balas. Daud
menunjukkan contoh seorang pemimpin yang berhati seperti Allah. Dalam posisi
yang kuat, ia tidak menyalahgunakan kekuasaannya, melainkan memperlihatkan
belas kasihan. Kasih karunia tidak diberikan karena seseorang layak
menerimanya, melainkan karena kemurahan hati sang pemberi. Simei tidak layak
diampuni, tetapi Daud memberikan kasih karunia kepadanya.
Bapak, Ibu, dan Saudara yang
terkasih, bukankah Yesus juga melakukan hal yang sama kepada kita? Ia mengasihi
kita bahkan ketika kita masih hidup dalam dosa. Tuhan bisa saja membiarkan kita
binasa dalam penghukuman kekal karena dosa-dosa kita, sebab sudah seharusnya
kita menanggung akibat dari. Namun, Tuhan memberikan kasih karunia dan memilih
untuk menyelamatkan kita.
Kasih karunia Tuhan diberikan
bukan karena kita layak menerimanya, melainkan karena kemurahan hati-Nya. Allah
menunjukkan kasih-Nya melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Oleh
sebab itu, marilah kita hidup dengan hati yang penuh syukur, meneladani kasih
karunia itu dalam kehidupan kita sehari-hari dengan mengampuni, mengasihi, dan
menunjukkan belas kasihan kepada sesama.
KASIH KARUNIA TUHAN SELALU LEBIH BESAR DARIPADA KESALAHAN KITA DAN SELALU MEMBERI KESEMPATAN BARU BAGI SIAPA PUN YANG MAU KEMBALI KEPADA-NYA.
Sumber
- KASIH KARUNIA BAGI YANG BERSALAH OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
- Youtube GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- Web GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar
Posting Komentar