KESETIAAN DALAM DIAM (2 SAMUEL 19:30)

 

        Dalam dunia yang bising dan penuh pembelaan diri, banyak orang mengukur kesetiaan dari hal-hal yang terlihat mungkin melalui kata-kata manis, tindakan yang dipamerkan, atau usaha keras untuk membuktikan diri. Namun, tidak semua kesetiaan perlu ditunjukkan dengan teriakan atau pembuktian yang besar. Terkadang, kesetiaan sejati justru hadir dalam keheningan dan diam.

        Hari ini kita belajar dari seorang tokoh yang mungkin tidak sepopuler Raja Daud atau Absalom, tetapi sikap hatinya sangat menyentuh. Ia adalah Mefiboset, cucu Saul yang lumpuh, difitnah, namun tetap setia kepada Raja Daud tanpa membela diri secara berlebihan.

        Ketika Daud melarikan diri karena pemberontakan Absalom, datanglah Ziba, pelayan Mefiboset, membawa bantuan bagi Daud. Namun, Ziba menyampaikan kabar bohong bahwa Mefiboset tidak ikut karena ingin merebut kembali kerajaan Saul. Ia memfitnah tuannya sendiri dan ini adalah sebuah fitnah yang sangat keji.

        Mefiboset tidak melawan Ziba, padahal ia bisa saja melakukannya. Ia juga tidak memaksa diri untuk mengejar Daud dan membela dirinya, karena keadaannya yang lumpuh membuatnya tidak berdaya. Walau demikian, hatinya tetap tertuju kepada rajanya. Ia tidak berpaling kesetiaan, tidak berusaha mencari aman, dan tidak berkelit.

        Dalam 2 Samuel 19:24 tertulis bahwa, “Sejak Daud pergi, Mefiboset tidak membersihkan kakinya, tidak memelihara janggutnya, dan pakaiannya tidak dicuci.” Hal ini menandakan betapa dalam dukanya Mefiboset selama Raja Daud tidak berada di tahtanya. Kesetiaannya tidak memiliki panggung, tetapi nyata dalam diam.

        Saudara yang terkasih, terkadang hidup kita pun demikian. Kita bisa difitnah, disalahpahami, atau ditinggalkan, tetapi tetap memilih setia kepada Tuhan walaupun tidak ada yang melihat. Kesetiaan sejati tidak membutuhkan sorotan, karena yang terpenting adalah hati yang tetap melekat kepada Sang Raja.

        Ketika Daud akhirnya kembali dan menyelesaikan permasalahan antara Mefiboset dan Ziba, Mefiboset berkata dengan tulus, “Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja ”Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat.” (2 Samuel 19:30). Kalimat ini mencerminkan hati seorang hamba yang sejati. Baginya, kehadiran rajanya jauh lebih berharga daripada hak milik atau harta. Ia tidak menuntut, tidak menyalahkan, dan tidak membalas. Ia hanya bersyukur karena sang raja telah kembali.

        Mefiboset menggambarkan hati yang setia kepada rajanya. Sikapnya mengingatkan kita kepada Yesus Kristus, Raja yang setia kepada umat-Nya, bahkan ketika kita tidak setia kepada-Nya. Seperti yang tertulis dalam Yesaya 53:7, “Ia dianiaya, tetapi Ia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya.” Yesus tidak membela diri ketika difitnah dan disalibkan. Ia tidak mempertahankan hak-Nya sebagai Anak Allah, tetapi memilih untuk diam dan merendahkan diri demi keselamatan kita. Dalam keheningan-Nya, Yesus menunjukkan kasih yang setia sampai mati.

        Hidup ini mungkin kita tidak selalu mendapat kesempatan untuk membuktikan diri. Mungkin tidak ada yang melihat kesetiaan kita, tidak ada yang menghargai pengorbanan kita, dan tidak ada yang memperhitungkan ketulusan kita. Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa tetaplah setia, walau tidak ada yang melihat; tetaplah setia, walau tidak ada yang menghargai. Teladan yang Yesus berikan kepada kita setia dalam diam, dengan hati yang taat dan penuh kasih.

KESETIAAN SEJATI TIDAK SELALU TERDENGAR DALAM KATA-KATA, TETAPI TERLIHAT DALAM HATI YANG TETAP TAAT MESKI DALAM DIAM.


Sumber

  • KESETIAAN DALAM DIAM OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
  • Youtube GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • Web GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 


Komentar

Postingan Populer