DARI PALUNGAN UNTUK SEMUA BANGSA (LUKAS 2:32)
Mari kita bayangkan bersama. Bayangkan kita adalah seorang gembala di padang Betlehem pada suatu malam. Udara terasa dingin, suasana gelap menyelimuti, dan kita hanya ditemani oleh bintang-bintang di langit serta domba-domba yang kita jaga. Tiba-tiba, terang surgawi memecah kegelapan malam. Sebuah kabar yang menakjubkan disampaikan kepada kita.
Dengan
penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan, kita berlari menuju sebuah kandang. Di
sana, di dalam sebuah palungan, tempat makan hewan, terbaring seorang bayi.
Sungguh sederhana. Hanya ada seorang bayi, ibu dan ayah-Nya, serta hewan-hewan
di sekeliling-Nya. Namun, pada malam itu, sesuatu yang Mahabesar justru dimulai
dari tempat yang paling kecil, yaitu sebuah palungan.
Beberapa
waktu kemudian, ketika Yesus masih bayi, seorang pria tua bernama Simeon
menggendong-Nya di Bait Allah. Simeon mengucapkan kata-kata yang luar biasa
tentang bayi di palungan itu. Ia berkata bahwa Anak ini adalah terang yang
menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat
Allah, Israel. Pernyataan ini menegaskan bahwa terang itu ditujukan bagi semua
bangsa.
Di
sinilah muncul sebuah perenungan penting. Bayangkan seorang anak sekolah dasar
yang memiliki makanan enak dan mainan baru. Biasanya, ia ingin menyimpannya
untuk dirinya sendiri atau membaginya hanya kepada teman-teman terdekat. Jarang
sekali ia berpikir untuk membagikannya kepada semua orang.
Demikian
pula yang terjadi pada banyak orang Israel pada masa itu. Mereka mengira bahwa
Mesias, Sang Raja Penyelamat, hanya datang untuk satu kelompok, satu suku, dan
satu bangsa saja. Seolah-olah terang itu hanya boleh dinikmati oleh mereka yang
merasa paling dekat dan paling berhak.
Namun,
Simeon menegaskan bahwa bayi di palungan itu bukanlah terang yang harus
disembunyikan. Palungan bukanlah titik akhir, melainkan titik awal. Dari
palungan di Betlehem, terang itu akan menyebar, melampaui kandang, melampaui
kota Betlehem, melampaui batas Israel, hingga menjangkau seluruh dunia. Terang
itu hadir bagi semua suku, semua bahasa, dan semua bangsa, termasuk kita yang
hidup di Indonesia pada hari ini.
Palungan
menjadi sarana awal Allah hadir ke dalam dunia. Ia tidak lahir di istana megah
yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang kaya dan berkuasa. Ia lahir di
kandang, tempat yang dapat didatangi oleh siapa saja, baik gembala, orang
asing, orang miskin, maupun orang biasa. Kita semua termasuk di dalamnya.
Kebenaran
ini mengubah cara kita memandang diri kita. Sejak awal, kita telah dicintai
karena kita termasuk dalam rencana keselamatan Allah. Kita diterima tanpa
syarat keturunan, status, atau prestasi. Kita juga diperlengkapi karena kita
tidak hanya menjadi penerima terang itu, tetapi juga dipanggil untuk membawanya
kepada dunia.
Natal
mengingatkan kita untuk kembali datang kepada Yesus dan memandang Dia di
palungan. Kita diajak untuk menerima kasih-Nya yang tidak terbatas dan
menyadari bahwa hidup kita berharga di mata-Nya. Selanjutnya, kita dipanggil
untuk membagikan terang itu kepada sesama melalui perkataan, sikap, dan
perbuatan kita.
Pada
malam di Betlehem itu, sebuah palungan menjadi pusat perhatian dunia. Bukan
karena kemegahannya, melainkan karena Pribadi yang hadir di dalamnya. Ia adalah
Terang bagi Israel dan Terang bagi semua bangsa. Ia adalah Terang bagi kita,
dan melalui kita, terang itu dinyatakan bagi dunia.
Sumber
- DARI PALUNGAN UNTUK SEMUA BANGSA OLEH PDT. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta
Lestari Zendrato, S.Th


Komentar
Posting Komentar