GEMBALA YANG PERTAMA MENDENGAR KABAR INJIL (LUKAS 2:15–17)
Kelahiran
Yesus adalah peristiwa terbesar dalam sejarah manusia, namun kabar itu tidak
pertama-tama disampaikan di istana atau rumah ibadah. Allah justru memilih
menyampaikannya kepada para gembala yang bekerja pada malam yang gelap, yakni
orang-orang yang pada masa itu dianggap tidak penting dan tidak diperhitungkan
dalam percakapan penting. Dengan memilih mereka sebagai pendengar pertama kabar
Injil, Allah menegaskan bahwa anugerah-Nya dicurahkan kepada hati yang
sederhana, bukan kepada mereka yang memiliki kedudukan tinggi.
Kitab
Lukas ditulis oleh Lukas, seorang tabib, sejarawan, dan rekan pelayanan Paulus.
Melalui tulisannya, Lukas menekankan kasih Allah kepada orang miskin, tersisih,
dan mereka yang dianggap tidak berarti. Ia juga menegaskan bahwa keselamatan
dari Allah diperuntukkan bagi semua bangsa, dan bahwa Yesus datang sebagai
Juruselamat bagi seluruh umat manusia. Dalam pasal 2, Lukas menceritakan proses
kelahiran Yesus secara sederhana tetapi sarat makna, dan menempatkan para
gembala sebagai tokoh pertama yang menerima pewahyuan surgawi tentang hadirnya
Mesias.
Siapakah
para gembala pada masa itu? Mereka bukan tokoh rohani. Mereka sering dipandang
rendah dan bahkan dianggap tidak layak memberikan kesaksian di pengadilan.
Mereka hidup di pinggiran kota, bergumul dengan dingin, bahaya, dan kesepian.
Namun justru kepada mereka Allah menyampaikan kabar terbesar sepanjang sejarah
manusia.
Pada
ayat 15, setelah para malaikat kembali ke surga, para gembala berkata, “Marilah
kita pergi ke Betlehem.” Pernyataan ini menunjukkan respons yang cepat, iman
yang aktif, ketaatan tanpa keraguan, serta semangat untuk mengalami langsung
apa yang difirmankan Tuhan. Mereka tidak mengabaikan kabar itu, melainkan
mengejarnya.
Pada
ayat 16, dikatakan bahwa mereka “cepat-cepat berangkat.” Teks Yunani
menggunakan kata speusantes, yang berarti pergi dengan tergesa-gesa,
bukan karena panik, tetapi karena kerinduan yang besar. Di Betlehem mereka
menemukan seorang bayi yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan.
Tanda ini sangat penting: bukan istana, bukan kemegahan, melainkan
kesederhanaan. Para gembala langsung mengerti bahwa Allah tidak memakai cara
dunia untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Pada
ayat 17, setelah melihat Yesus, para gembala tidak dapat berdiam diri. Mereka
memberitahukan apa yang telah dikatakan malaikat kepada mereka. Langkah mereka
jelas: mendengar firman, menanggapi firman, melihat kebenaran firman, dan
kemudian memberitakan firman. Tanpa pendidikan teologi, tanpa pelatihan khusus,
dan tanpa gelar apa pun, mereka menjadi pemberita Injil pertama dalam
Perjanjian Baru. Hati mereka digerakkan oleh sukacita dan kebenaran yang mereka
alami sendiri.
Jika
kabar kelahiran Yesus pertama kali disampaikan kepada para gembala, hal itu
menegaskan bahwa Yesus datang bukan bagi mereka yang kuat, tetapi bagi yang
rendah hati. Ia lahir di dalam palungan, bukan di istana. Ia memilih
kesederhanaan sebagai tanda kehadiran-Nya. Ini sekaligus mempersiapkan jalan
bagi pelayanan-Nya yang penuh belas kasihan. Para malaikat berkata, “Aku
memberitakan kepadamu kabar baik,” dan Yesus bukan hanya pembawa kabar baik,
tetapi Dialah kabar baik itu sendiri. Ia memakai gembala yang dipandang hina menjadi
pewarta pertama Injil, dan Ia juga dapat memakai kita apa adanya.
Jika
gembala saja dipakai Allah, maka kita pun dapat dipakai-Nya. Allah tidak
mencari orang yang paling mampu, tetapi yang mau. Para gembala mendengar, lalu
bergerak. Iman tanpa tindakan hanyalah konsep. Karena itu, kita perlu belajar
merespons firman dengan kesungguhan. Para gembala tidak diperintah untuk
memberitakan Injil; mereka melakukannya karena hati mereka penuh oleh sukacita.
Pertanyaan bagi kita adalah: apakah hati kita masih penuh oleh Kristus?
Para
gembala merupakan simbol manusia yang dipandang rendah, tetapi dipilih Allah
untuk menerima kabar terbesar. Ketika mereka mendengar, mereka bergerak; ketika
mereka melihat, mereka bersaksi. Allah masih bekerja dengan pola yang sama
hingga hari ini. Injil datang kepada hati yang rendah, terbuka, dan rela taat.
Pertanyaannya bagi kita sekarang: apakah kita memiliki hati seperti para
gembala, hati yang mau mendengar, mau bergerak, dan mau membagikan Kristus
kepada dunia?
Sumber
- GEMBALA YANG PERTAMA MENDENGAR KABAR INJIL OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.TH
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta
Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar