KASIH YANG TURUN DARI SURGA (1 YOHANES 4:9-10)
Pernahkah
kita menerima sebuah hadiah yang sama sekali tidak kita sangka? Hadiah yang
diberikan bukan karena kita pantas menerimanya, melainkan karena seseorang
begitu mengasihi kita.
Ada
seorang anak yang hampir selalu pulang sekolah dengan rasa takut. Ia tahu nilai
ujiannya sering buruk. Pada suatu hari, setelah memperoleh nilai yang sangat
rendah, ia pulang dengan hati gemetar membayangkan kemarahan ayahnya. Namun,
yang ia temui justru berbeda. Sang ayah memeluknya dan berkata, “Ayah tetap
mengasihimu. Nilaimu boleh berubah, tetapi kasih Ayah tidak akan berubah.”
Demikian
pula kehidupan kita. Ada kalanya kita merasa gagal, tidak layak, dan takut
mendekat kepada Tuhan. Namun, 1 Yohanes 4:9–10 mengingatkan bahwa kasih Allah
bukan turun karena kita baik, melainkan karena Dia baik. Kasih itu datang dari
surga terlebih dahulu, lebih besar, dan lebih murni daripada segala bentuk
kasih yang pernah kita rasakan.
Makna
Kasih Allah dalam Ayat Ini
Pertama,
kasih Allah dinyatakan. Yohanes memakai kata “nyata” yang berarti sesuatu yang
sebelumnya tidak terlihat menjadi terlihat dengan jelas. Kasih Allah bukan
sekadar konsep atau teori. Kasih itu hadir dalam tindakan nyata ketika Allah
mengutus Anak-Nya. Dialah yang terlebih dahulu menyatakan kasih itu sehingga
kita mampu percaya kepada-Nya. Kasih sejati tidak menunggu kita datang, tetapi
datang kepada kita lebih dulu.
Kedua,
kasih Allah dinyatakan dalam pemberian Anak-Nya yang tunggal.
Istilah “yang tunggal” menegaskan keunikan Yesus Kristus. Ia satu-satunya,
tiada yang setara dengan-Nya. Allah memberikan yang paling berharga, bukan sisa
dan bukan pelengkap. Inilah puncak kasih: Allah memberikan yang paling berharga
untuk manusia yang paling tidak layak.
Ketiga,
kasih Allah mendahului respons kita. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah,”
demikian penegasan rasul Yohanes. Kasih Allah adalah kasih yang aktif, yang
mencari, yang mendekati, dan yang memulihkan manusia meskipun manusia
menolak-Nya. Kasih ini tidak bersyarat.
Keempat,
kasih Allah menghadirkan pendamaian. Yesus diutus untuk menjadi pendamaian atas
dosa manusia, memulihkan hubungan kita dengan Allah melalui pengorbanan-Nya di
kayu salib. Kasih yang turun dari surga bukan hanya memberikan rasa nyaman,
melainkan mengerjakan keselamatan yang sejati.
Yesus
adalah wujud kasih Allah yang turun dari surga. Ia bukan hanya membawa kasih,
tetapi Ia adalah kasih itu sendiri. Melalui kehidupan, penderitaan, dan
kebangkitan-Nya, kasih Allah menjadi nyata dan dapat kita alami secara pribadi.
Karena itu, marilah kita:
- hidup sebagai penerima kasih Allah. Kasih Allah adalah anugerah, bukan upah usaha kita.
- meneladani kasih yang aktif. Kasih yang berinisiatif, yang bergerak mencari, mengampuni, dan menyembuhkan.
- membagikan
kasih itu kepada sekitar kita. Pada keluarga yang sulit kita pahami, pada teman
yang pernah mengecewakan, atau pada mereka yang membutuhkan perhatian dan
penguatan.
Sekali
lagi, kasih Allah tidak menunggu sampai kita siap. Kasih itu datang ketika kita
paling membutuhkan. Kasih dari surga mencari kita, menyentuh kita, dan
menyelamatkan kita. Mari kita hidup dalam kasih yang lebih dulu diberikan
kepada kita, dan biarlah kasih itu terpancar melalui hidup kita setiap hari.
Sumber
- KASIH YANG TURUN DARI SURGA oleh SDRI. JELIA FRISDA PURBA
- YOUTUBE GSRI TOMANG:
https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG:
https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar