PENYEMBAHAN PARA MAJUS (MATIUS 2:11)
Ketika
seseorang akhirnya menemukan sesuatu yang lama dicari, sering kali ada rasa
lega, syukur, dan sukacita yang mendalam. Inilah yang dialami para Majus.
Mereka adalah orang asing, bukan bagian dari bangsa Yahudi, namun mereka
menempuh perjalanan panjang dan berbahaya hanya untuk bertemu Seorang Bayi.
Begitu melihat Yesus, mereka tidak hanya kagum tetapi langsung sujud menyembah.
Mereka tahu bahwa yang sedang mereka hadapi adalah Raja yang sejati.
Kedatangan
para Majus terjadi dalam situasi yang tegang. Herodes, seorang penguasa kejam,
sangat terganggu ketika mendengar kabar tentang kelahiran Raja orang Yahudi.
Para pemimpin agama di Yerusalem mengetahui nubuat tentang Mesias, tetapi
mereka sendiri tidak berusaha mencari-Nya. Justru orang-orang asing yang tidak
memiliki hubungan langsung dengan nubuat Israel rela mengikuti bintang,
menyeberangi padang gurun, dan menghadapi ancaman politik untuk menemukan
Yesus.
Ketika
mereka tiba, mereka mendapati Yesus bukan di istana megah, melainkan di rumah
sederhana. Namun kesederhanaan itu tidak menggoyahkan iman mereka. Mereka sujud
menyembah dan mempersembahkan yang terbaik, yaitu emas sebagai lambang raja,
kemenyan sebagai lambang Allah, dan mur sebagai lambang penderitaan dan
kematian-Nya kelak.
Penyembahan
para Majus menunjukkan bahwa Yesus datang bukan hanya bagi bangsa Israel,
tetapi bagi seluruh dunia. Mereka adalah gambaran awal tentang bangsa-bangsa
yang datang untuk menyembah Mesias. Penyembahan mereka tidak didorong oleh
kemegahan lahiriah, tetapi oleh pengakuan iman bahwa Bayi itu adalah Sang
Firman yang menjadi manusia. Dialah Raja, Allah, dan Juruselamat.
Penyembahan
sejati bukan ditentukan oleh lokasi, status, atau tradisi, melainkan oleh hati
yang mau datang dan memberikan yang terbaik kepada Yesus. Para Majus tidak
menunggu Yesus mendatangi tempat mereka. Mereka mencari-Nya dengan tekun dan
mempersembahkan harta yang paling bernilai. Pertanyaannya bagi kita adalah apa
yang menjadi emas, kemenyan, dan mur dalam hidup kita. Apakah kita bersedia
memberikan waktu, kemampuan, harta, atau hidup kita bagi Dia yang layak
disembah?
Allah
tidak pernah menolak siapa pun yang datang kepada Yesus dengan hati yang tulus.
Seperti para Majus, marilah kita datang dengan kerinduan yang murni, tidak
hanya membawa persembahan lahiriah tetapi juga menyerahkan hati kita
sepenuhnya. Dialah Raja yang layak menerima penyembahan kita hari ini dan
selamanya. Amin.
Sumber
- PENYEMBAHAN PARA MAJUS OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta
Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar