SUKACITA DI BETLEHEM (LUKAS 2:20)
Malam itu di Betlehem bukanlah malam yang istimewa bagi kebanyakan orang—hanya malam biasa. Namun bagi sekelompok gembala, malam itu berubah menjadi malam penuh sukacita, karena mereka mendengar kabar yang mengubah dunia: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11)
Para gembala adalah orang-orang sederhana dan sering dianggap rendah, tetapi mereka menjadi orang pertama yang menerima kabar kelahiran Yesus. Mereka melihat sendiri bayi itu terbaring di palungan dan pulang dengan hati penuh sukacita. Sukacita di Betlehem bukan karena tempatnya indah atau keadaannya nyaman, melainkan karena Tuhan hadir di tengah-tengah mereka.
Beberapa tahun lalu, saya
mengalami masa sulit karena kehilangan pekerjaan dan merasa tidak memiliki
arah. Namun ketika saya merenungkan kisah para gembala di Betlehem, saya
tersadar: mereka bersukacita bukan karena keadaan mereka berubah, melainkan
karena mereka menemui Yesus.
Saya belajar mencari sukacita
bukan dari apa yang saya miliki, tetapi dari siapa yang menyertai saya.
Perlahan, meskipun situasi saya belum berubah, saya merasakan damai yang sulit
dijelaskan, dan hati saya menjadi tenang.
Kini saya mengerti bahwa
sukacita sejati bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup bersama
Yesus di tengah segala keadaan.
Kita hidup di dunia yang
dengan mudah mencuri sukacita—tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau
ketidakpastian masa depan. Namun kisah Betlehem mengingatkan kita:
- Sukacita sejati tidak berasal dari dunia,
tetapi dari perjumpaan dengan Yesus.
- Ketika hati kita mengenal Dia, kita dapat
bersyukur dan memuji Tuhan meskipun keadaan tidak sempurna.
- Sama seperti para gembala, kita pun
dipanggil untuk membawa kabar sukacita itu kepada orang lain.
Hari ini, marilah kita
bertanya kepada diri sendiri: Apakah sukacita saya masih bergantung pada
situasi, atau sudah berakar pada Yesus yang hidup di dalam hati saya? Yesus
datang ke dunia bukan untuk membawa kekayaan atau kemewahan, tetapi untuk
membawa damai dan sukacita sejati. Sukacita itu tidak bergantung pada keadaan
luar, tetapi lahir dari hubungan dengan Allah.
Yesus menunjukkan bahwa
sukacita sejati muncul ketika kita melakukan kehendak Bapa, bahkan dalam
penderitaan. Dalam perjalanan hidup-Nya, Yesus tetap bersukacita meskipun
ditolak, dihina, bahkan disalib, karena Ia tahu kasih Allah sedang bekerja. Artinya,
Yesus menjadi teladan bagi kita: Sukacita sejati bukan karena semuanya mudah,
tetapi karena Allah hadir dan berkarya di tengah kesulitan.
Sukacita di Betlehem bukan
hanya untuk para gembala, tetapi juga untuk kita semua yang percaya. Yesus
datang agar hati kita tidak lagi hampa, tetapi dipenuhi damai dan sukacita yang
kekal. Mari kita rayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian, tetapi dengan hati
yang memuji dan bersyukur, sebab sukacita sejati telah lahir dalam diri Yesus
Kristus.
Sumber
- SUKACITA DI BETLEHEM oleh EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
- Youtube GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- Web GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar