DAMAI DENGAN ALLAH (ROMA 5:1)
Kisah
Petrus yang berjalan di atas air merupakan gambaran nyata tentang pergumulan
iman manusia di tengah ketakutan. Dalam Matius 14:29–31 diceritakan bagaimana
Petrus berani melangkah keluar dari perahu setelah Yesus berkata kepadanya,
“Datanglah.” Perintah Yesus ini dalam bahasa Yunani hanya terdiri dari satu
kata, elthe, namun mengandung otoritas ilahi sekaligus undangan penuh kasih.
Petrus menaati firman tersebut dengan meninggalkan perahu, tempat yang selama
ini memberinya rasa aman. Ia melangkah bukan karena kondisi alam mendukung,
melainkan karena ia percaya kepada pribadi yang memanggilnya. Di sini terlihat
bahwa iman sejati selalu dimulai dari ketaatan kepada firman Tuhan, sekalipun
secara manusia hal itu tampak mustahil.
Namun,
ketika Petrus mulai merasakan tiupan angin yang kencang, fokusnya bergeser. Ia
tidak lagi memusatkan pandangan kepada Yesus, melainkan kepada ancaman di
sekelilingnya. Ketakutan pun muncul dan ia mulai tenggelam. Peristiwa ini
menunjukkan bahwa ketakutan bukanlah tanda kegagalan iman, melainkan indikator
bahwa iman sedang teralihkan. Petrus tidak kehilangan iman sepenuhnya, tetapi
ia membiarkan keadaan lebih berkuasa atas hatinya daripada janji Tuhan. Banyak
orang percaya mengalami hal yang sama, di mana iman yang semula kuat mulai
goyah ketika perhatian tertuju pada masalah, bukan pada Tuhan yang berdaulat
atas masalah tersebut.
Di
tengah kelemahan Petrus, Yesus merespons dengan kasih dan kuasa. Ketika Petrus
berseru, “Tuhan, tolonglah aku,” seruan yang singkat namun lahir dari
keputusasaan yang mendalam, Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan
menyelamatkannya. Injil mencatat bahwa pertolongan itu terjadi dengan segera,
tanpa penundaan. Tindakan Yesus mengulurkan tangan menggambarkan kasih karunia
Allah yang menopang manusia dalam kelemahannya. Pertolongan Tuhan tidak selalu
datang setelah iman kita sempurna, tetapi justru sering dinyatakan ketika kita
mengakui ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya.
Peristiwa
ini dapat diilustrasikan seperti seorang anak kecil yang sedang belajar
bersepeda. Pada awalnya ia berani melaju karena percaya bahwa ayahnya memegang
sadel sepeda. Ketika ia menyadari bahwa pegangan itu dilepaskan, ketakutan
muncul dan ia hampir terjatuh. Namun sebelum benar-benar jatuh, ayahnya
menangkap dan menopangnya. Demikian pula Tuhan, Ia mengizinkan kita melangkah
dalam iman, menghadapi ketakutan, tetapi tidak membiarkan kita binasa.
Secara
kristosentris, kisah ini mengarahkan pandangan kita kepada Yesus Kristus yang
selalu hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa. Yesus tidak pernah kehilangan
fokus pada kehendak Allah, sehingga misi penebusan-Nya terlaksana dengan
sempurna. Ia bukan hanya memanggil manusia untuk melangkah dalam iman, tetapi
juga menjadi Penolong yang setia ketika iman itu melemah.
Pada
akhirnya, kisah Petrus mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari
perjalanan iman. Yesus tidak menolak Petrus yang tenggelam, melainkan
memulihkannya dan meneguhkan imannya. Kita tidak dipanggil untuk berjalan di
atas air dengan sempurna, tetapi untuk percaya kepada Dia yang memanggil dan
menyertai kita. Selama mata kita tertuju kepada Kristus, kita dapat melangkah
dalam iman di tengah ketakutan, karena tangan-Nya selalu siap menopang kita.
Sumber
- DAMAI DENGAN ALLAH OLEH EV. FERONI HULU,
STh
- YOUTUBE GSRI TOMANG:
https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar