DOA ORANG YANG PUTUS ASA (MAZMUR 88:19)

 


Pernahkah kita merasa sendirian dalam hidup, seolah-olah semua orang menjauh dan tidak ada seorang pun yang sungguh mengerti perasaan kita? Keadaan itu seperti berjalan di tengah malam yang gelap tanpa sedikit pun cahaya. Itulah gambaran seseorang yang berada pada titik keputusasaan.

Banyak orang pernah mengalami masa-masa seperti ini, ketika doa terasa hampa dan Tuhan seakan-akan diam. Pemazmur dalam Mazmur 88 memahami pengalaman tersebut dengan sangat mendalam. Ia tidak berdoa dari tempat yang nyaman, melainkan dari lembah kegelapan, ketika harapan hampir padam. Namun yang mengagumkan, di tengah keputusasaan itu, ia tetap memilih untuk berdoa.

Mazmur 88 merupakan salah satu mazmur yang paling gelap dalam seluruh Kitab Mazmur. Berbeda dengan banyak mazmur lain yang berakhir dengan pengharapan dan pujian, Mazmur 88 justru ditutup dengan nada kesendirian dan kegelapan.

Ayat 19 secara khusus menggambarkan kondisi ekstrem pemazmur yang merasa ditinggalkan, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Dalam konteks kehidupan bangsa Israel, mazmur ini mencerminkan jeritan seseorang yang merasa dijauhkan dari kasih Tuhan dan komunitasnya, tetapi tetap memilih untuk berseru kepada Tuhan. Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: iman sejati tidak berhenti berdoa, bahkan ketika berada dalam keputusasaan yang terdalam.

Mazmur 88 menunjukkan bahwa doa bukan hanya milik orang-orang yang sedang bersukacita, tetapi juga milik mereka yang hatinya hancur. Pemazmur mengajarkan bahwa kejujuran dalam doa adalah bentuk iman yang mendalam. Ia tidak berpura-pura kuat di hadapan Tuhan, melainkan mencurahkan seluruh kepedihan hatinya tanpa menyembunyikan apa pun.

Dalam kehidupan kita, ada masa-masa ketika doa terasa tidak dijawab dan kita mulai meragukan kasih Tuhan. Renungan ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak menolak doa orang yang berseru dari hati yang remuk. Diamnya Tuhan bukan berarti Ia tidak hadir. Ketika kita tetap berdoa di tengah keputusasaan, sesungguhnya kita sedang menyatakan iman yang sejati, iman yang tidak bergantung pada perasaan, melainkan pada pengenalan akan Tuhan.

Ketika kita merasa sendirian, teruslah berdoa. Jangan biarkan keputusasaan membungkam doa kita. Curahkan isi hati kepada Tuhan, baik keluhan, air mata, maupun kebingungan yang kita alami. Tuhan tidak tersinggung oleh kejujuran kita; sebaliknya, Ia mendengarkan dengan penuh kasih. Diamnya Tuhan sering kali berarti Ia sedang mengerjakan sesuatu yang belum dapat kita pahami.

Di dalam Yesus Kristus, kita menemukan pengharapan sejati bagi orang-orang yang putus asa. Yesus sendiri pernah mengalami penderitaan yang serupa dengan pemazmur: ditinggalkan, dikhianati, dan disalibkan. Di atas kayu salib Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46).

Yesus memahami kesepian dan keputusasaan yang paling dalam. Namun Ia tetap menyerahkan diri-Nya kepada Bapa. Melalui penderitaan dan kebangkitan-Nya, Yesus menyatakan bahwa kegelapan bukanlah akhir dari segalanya. Di balik kegelapan selalu ada terang yang Tuhan sediakan.


Sumber

  • DOA ORANG YANG PUTUS ASA OLEH EV. FERONI HULU, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 


Komentar

Postingan Populer