INVESTASI TERBAIK DALAM HIDUP (MATIUS 6:19–21)

 

Dalam dunia modern, istilah investasi sering kali identik dengan uang, aset, dan keuntungan di masa depan. Banyak orang rela bekerja keras, menunda kesenangan, bahkan mengambil risiko besar demi memperoleh hasil yang maksimal. Orientasi hidup semacam ini membuat investasi dipahami semata-mata sebagai upaya mengamankan kenyamanan dan keberhasilan jangka panjang. Namun, perspektif iman Kristen mengajak manusia untuk memikirkan kembali makna investasi yang sejati, bukan hanya dalam dimensi duniawi, tetapi juga dalam terang kekekalan.

Seorang misionaris bernama Jim Elliot pernah berada di persimpangan pilihan hidup yang serupa, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Ia memiliki masa depan yang menjanjikan, pendidikan yang baik, dan kesempatan untuk hidup dengan nyaman. Namun, ia memilih menginvestasikan hidupnya untuk memberitakan Injil kepada suku Auca di Ekuador, sebuah pelayanan yang pada akhirnya merenggut nyawanya. Dalam salah satu tulisannya, Jim Elliot menegaskan, “Ia bukan orang bodoh yang memberikan apa yang tidak dapat ia pertahankan untuk memperoleh apa yang tidak dapat ia kehilangan.” Kisah hidupnya menantang setiap orang percaya untuk merenungkan kembali apa yang sesungguhnya menjadi investasi terbaik dalam hidup.

Yesus Kristus sendiri berbicara secara langsung mengenai makna investasi yang sejati. Dalam Matius 6:19–21, Yesus berkata agar manusia tidak mengumpulkan harta di bumi yang bersifat sementara dan mudah rusak, melainkan mengumpulkan harta di sorga yang bersifat kekal dan aman. Pernyataan ini disampaikan dalam Khotbah di Bukit, ketika Yesus mengajarkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang bertolak belakang dengan cara pandang dunia. Yesus menegaskan bahwa di mana harta seseorang berada, di situ pula hatinya berada, menunjukkan bahwa orientasi hidup seseorang akan selalu mengikuti apa yang ia anggap paling berharga.

Istilah “mengumpulkan harta” menunjuk pada tindakan menyimpan dan menggantungkan rasa aman hidup pada sesuatu. Yesus tidak melarang kepemilikan harta, tetapi menegur sikap hati yang menjadikan harta dunia sebagai pusat kehidupan. Harta duniawi bersifat sementara, rapuh, dan tidak dapat menjamin keamanan sejati, sedangkan harta di sorga memiliki nilai kekal dan tidak dapat dirusakkan oleh apa pun. Dengan demikian, investasi yang dipilih seseorang bukan hanya menentukan masa depannya, tetapi juga membentuk arah hati, prioritas hidup, dan tujuan akhirnya.

Dalam terang Kristologi, Yesus bukan hanya pengajar tentang investasi rohani, melainkan juga teladan tertinggi dari investasi yang sejati. Ia adalah Anak Allah yang rela meninggalkan kemuliaan sorga dan mengambil rupa seorang hamba. Filipi 2:6–7 menyatakan bahwa Kristus mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Dari sudut pandang manusia, hidup Yesus tampak seperti sebuah kerugian besar. Ia tidak mengumpulkan harta, ditolak oleh banyak orang, dan mati dengan cara yang hina. Namun, dalam perspektif Allah, pengorbanan Kristus adalah investasi ilahi yang menghasilkan keselamatan bagi banyak orang dan kemuliaan yang kekal. Kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa apa yang diserahkan kepada Allah tidak pernah sia-sia.

Melalui Kristus, orang percaya diajak untuk memandang hidup dengan sudut pandang kekekalan. Investasi terbaik bukanlah sekadar apa yang mendatangkan keuntungan sementara, melainkan apa yang memiliki nilai kekal di hadapan Allah. Waktu yang dipakai untuk melayani, kesetiaan dalam melakukan kehendak Tuhan, kasih yang diberikan tanpa pamrih, serta ketaatan dalam perkara-perkara kecil merupakan bentuk investasi rohani yang sering kali tidak terlihat atau dihargai oleh dunia, tetapi sangat berharga di mata Allah. Ketika seseorang menginvestasikan hidupnya di dalam Kristus, ukuran hidupnya tidak lagi ditentukan oleh keberhasilan duniawi semata, melainkan oleh kesetiaan kepada panggilan Allah.

Kesadaran akan investasi terbaik menolong orang percaya menjalani hidup dengan bijaksana. Orang percaya tetap bekerja, merencanakan masa depan, dan mengelola berkat Tuhan dengan penuh tanggung jawab, tetapi tidak menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir. Hidup dipusatkan pada Kristus, yang telah lebih dahulu menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Dengan demikian, investasi terbaik dalam hidup orang percaya adalah menyerahkan hati, waktu, dan seluruh keberadaan kepada Tuhan.

Apa yang ditanam di dalam Kristus akan menghasilkan buah yang tidak binasa dan membawa kepada sukacita kekal bersama-Nya

 

 Sumber

·         INVESTASI TERBAIK DALAM HIDUP OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th

·         YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en

·         WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer