KARYA ALLAH (MAZMUR 92:6)
Ketika
Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka menyaksikan secara
langsung karya Allah yang besar dan dahsyat. Laut Teberau terbelah, bangsa yang
tertindas dibebaskan, dan penyertaan Tuhan nyata sepanjang perjalanan di padang
gurun. Namun, tidak lama setelah peristiwa-peristiwa itu, bangsa Israel mulai
bersungut-sungut dan meragukan kesetiaan Allah. Kisah ini menunjukkan betapa
mudahnya manusia melupakan karya Allah, sekalipun telah menyaksikannya dengan
mata kepala sendiri. Oleh sebab itu, Alkitab berulang kali mengajak umat Tuhan
untuk mengingat, merenungkan, dan memahami karya Allah sebagai dasar iman yang
teguh.
Mazmur
92:6 menyatakan, “Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat
dalamnya rancangan-rancangan-Mu.” Ayat ini merupakan ungkapan pujian yang
menegaskan kebesaran karya Allah yang melampaui pemahaman manusia. Pemazmur
mengakui bahwa pekerjaan Tuhan bukan hanya besar dalam kuasa, tetapi juga agung
dalam hikmat dan tujuan. Karya Allah tidak pernah terjadi secara kebetulan,
melainkan selalu terencana dan sarat makna, meskipun sering kali tidak segera
dipahami oleh manusia.
Kata
“pekerjaan” dalam ayat ini mencakup seluruh tindakan Allah, baik dalam
penciptaan, pemeliharaan, maupun penyelamatan. Ungkapan “sangat dalam
rancangan-rancangan-Mu” menegaskan bahwa setiap karya Allah berakar pada hikmat
ilahi yang tidak dapat diselami sepenuhnya oleh akal manusia. Kesadaran ini
menolong orang percaya untuk memahami bahwa keterbatasan manusia tidak
meniadakan kebenaran bahwa Allah tetap bekerja dengan setia, konsisten, dan
sempurna dalam setiap keadaan.
Dalam
terang Kristologi, karya Allah mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus.
Kolose 1:16 menyatakan bahwa di dalam Kristus segala sesuatu diciptakan, baik
yang ada di sorga maupun yang ada di bumi. Pernyataan ini menegaskan bahwa
Kristus bukan hanya terlibat dalam karya keselamatan, tetapi juga merupakan
pusat dari karya penciptaan itu sendiri. Segala sesuatu ada oleh Dia dan untuk
Dia. Dengan demikian, seluruh karya Allah sejak awal dunia berpusat pada
Kristus dan menemukan makna sejatinya di dalam Dia.
Karya
Allah juga dinyatakan secara paling jelas melalui salib Kristus. Apa yang
tampak sebagai penderitaan dan kekalahan justru menjadi sarana keselamatan bagi
umat manusia. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah menyatakan karya
penebusan yang sempurna dan final. Di dalam Kristus, Allah bekerja bukan hanya
di luar diri manusia, tetapi juga di dalam hati manusia, membarui hidup,
memulihkan relasi dengan Allah, dan memberikan pengharapan yang kekal.
Pemahaman
yang benar akan karya Allah menolong orang percaya menjalani hidup dengan iman
dan kepercayaan yang teguh. Dalam situasi sulit, orang percaya diajar untuk
tetap yakin bahwa Allah sedang bekerja, meskipun hasilnya belum terlihat. Dalam
keberhasilan, orang percaya diingatkan untuk hidup dalam kerendahan hati,
karena menyadari bahwa segala sesuatu terjadi oleh karya Tuhan, bukan
semata-mata oleh kekuatan dan kemampuan manusia. Karya Allah sering kali
berlangsung secara senyap dan tidak mencolok, tetapi tidak pernah sia-sia.
Akhirnya,
merenungkan karya Allah membawa orang percaya kepada sikap penyembahan dan
ketaatan. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengagumi karya-Nya, tetapi juga
untuk ambil bagian di dalamnya melalui hidup yang taat kepada Kristus. Karya
Allah yang dimulai sejak penciptaan, dinyatakan dalam sejarah keselamatan, dan
digenapi di dalam Kristus akan terus berlangsung hingga segala sesuatu
dipulihkan sepenuhnya. Dalam keyakinan inilah orang percaya dapat hidup dengan
pengharapan yang teguh, karena Allah yang bekerja adalah Allah yang setia
sampai selama-lamanya.
Sumber
·
KARYA ALLAH OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO,
S.Th
·
YOUTUBE GSRI TOMANG:
https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
·
WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar