LEBIH BANYAK MENDENGAR (YAKOBUS 1:19)
Berapa
sering kita datang kepada Tuhan hanya untuk berbicara? Kita menceritakan semua
keluh kesah, menyebutkan daftar permintaan, lalu menutup doa tanpa memberi
kesempatan bagi Tuhan untuk menjawab.
Padahal doa sejati bukanlah monolog, melainkan dialog. Mendengar Tuhan sama
pentingnya dengan berbicara kepada-Nya. Ketika kita berhenti bicara dan mulai
mendengar, kita akan menyadari bahwa Tuhan sebenarnya sudah lebih dulu
berbicara.
Surat
Yakobus ditujukan kepada orang-orang percaya keturunan Yahudi yang tersebar di
berbagai wilayah dan sedang menghadapi tekanan hidup. Di tengah ujian itu,
Yakobus menasihati mereka untuk tidak bereaksi secara emosional, tetapi belajar
menundukkan hati di bawah bimbingan Firman. Kata Yunani untuk “mendengar” di
ayat ini adalah akouō bukan sekadar mendengar suara, tetapi mendengarkan
dengan hati yang siap menaati.
Sementara
itu, “lambat berkata-kata” berarti berhati-hati dalam merespons, karena
kata-kata yang keluar dari hati yang tidak tenang dapat melukai. Firman ini
mengajarkan bahwa pendengaran rohani lebih penting daripada reaksi spontan.
Tuhan memanggil kita memiliki hati yang peka bukan hanya telinga yang terbuka,
tetapi juga sikap yang mau diajar.
Yesus
bukan hanya Sang Firman yang berbicara, tetapi juga Tuhan yang mendengar. Ia
mendengar seruan Bartimeus yang buta di pinggir jalan (Markus 10:46–52). Ia
mendengar tangisan Maria dan Marta sebelum membangkitkan Lazarus (Yohanes 11). Ia
mendengar doa seorang pendosa yang tergantung di kayu salib dan berkata, “Hari
ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” (Lukas 23:43)
Dalam
Yesus, kita melihat Allah yang tidak pernah tuli terhadap jeritan umat-Nya, dan
yang mengajar kita untuk mendengarkan dengan kasih. Ketika kita belajar lebih
banyak mendengar, kita sedang dibentuk menjadi serupa dengan Kristus.
Marilah
belajar untuk mendengarkan. Luangkan waktu hening di hadapan Tuhan bukan
hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar firman dan kehendak-Nya.
Dengarkan pula orang-orang di sekitar kita, karena sering kali mereka tidak
membutuhkan nasihat, melainkan telinga yang mau mendengar. Menjadi pendengar
yang baik adalah pelayanan yang kudus. Tuhan juga sering berbicara melalui
firman-Nya, hati nurani, dan damai sejahtera yang Ia tanamkan. Dengarkan suara
lembut itu sebelum kita mengambil keputusan besar dalam hidup. Kiranya kita
menjadi orang percaya yang tidak hanya banyak berbicara, tetapi juga
sungguh-sungguh belajar untuk lebih banyak mendengar.
Sumber
- LEBIH
BANYAK MENDENGAR OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE
GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB
GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar
Posting Komentar