LELAHKAH? (YESAYA 40:30-31)

 

Pernahkah seseorang merasa lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga jauh di dalam jiwa. Tubuh mungkin masih mampu bergerak, namun hati terasa kosong, pikiran buntu, dan semangat seakan menghilang. Kelelahan semacam ini sering kali bukan muncul karena terlalu banyak bekerja, melainkan karena terlalu lama mengejar hal-hal yang keliru. Banyak orang tanpa sadar menguras dirinya sendiri demi kesuksesan, pengakuan, pencapaian, bahkan pelayanan, yang seharusnya memuliakan Tuhan tetapi justru dilakukan dengan kekuatan sendiri hingga melelahkan jiwa.

Keadaan serupa dialami oleh bangsa Israel pada zaman nabi Yesaya. Mereka hidup di tengah tekanan bangsa asing, ketidakpastian masa depan, dan kelelahan rohani yang mendalam. Dalam situasi itu, sebagian umat mencoba mengandalkan kekuatan manusia, menjalin persekutuan politik dengan Mesir, membuat berhala, atau mengejar kenyamanan duniawi. Semua usaha itu tidak membawa kelegaan, melainkan semakin menambah kelelahan batin.

Di tengah kondisi tersebut, Allah menyampaikan firman-Nya melalui Yesaya dengan sebuah janji yang penuh pengharapan. Firman Tuhan berkata, “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mendapat kekuatan baru. Mereka segera naik terbang seperti rajawali, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Janji ini bukan sekadar kata-kata penghiburan yang kosong. Janji tersebut lahir dalam konteks kehancuran yang nyata. Yerusalem telah runtuh, Bait Allah dibakar, dan banyak orang Israel dibuang ke Babel sebagai tawanan. Mereka terpisah dari tanah air, kehilangan identitas sebagai umat pilihan, dipaksa hidup di tengah penyembahan berhala, dan merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka.

Dalam keputusasaan itu, kelelahan mereka bukan hanya karena kerja paksa, tetapi karena roh yang remuk. Mereka mempertanyakan kepedulian dan kuasa Allah. Justru di saat seperti itulah Allah menyatakan bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari pasukan, strategi, atau kemampuan manusia, melainkan dari penantian yang penuh iman kepada Tuhan. Mereka tidak dapat mengubah keadaan, tetapi mereka dapat mengalihkan pandangan dari reruntuhan kepada Sang Pencipta langit dan bumi, Allah yang tidak pernah lelah dan yang memberi kekuatan kepada orang yang lemah, seperti yang ditegaskan dalam Yesaya 40:28-29.

Dalam terang Kristus, kebenaran ini dinyatakan secara sempurna. Yesus sendiri pernah mengalami kelelahan secara jasmani, seperti yang dicatat dalam Yohanes 4:6. Namun Ia tidak pernah kehilangan fokus kepada Bapa. Bahkan di taman Getsemani, ketika jiwa-Nya sangat bersusah dan tertekan, Yesus tetap menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada kehendak Allah. Di kayu salib, Ia menanggung kelelahan, keputusasaan, dan dosa manusia, supaya manusia tidak lagi harus mencari kekuatan dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, Ibrani 12:2 mengingatkan orang percaya untuk mengarahkan mata kepada Yesus, yang memimpin iman dan menyempurnakannya. Yesus bukan hanya teladan, tetapi sumber kekuatan sejati.

Kelelahan rohani sering menjadi tanda bahwa fokus hidup telah bergeser dari Kristus. Bisa jadi fokus itu beralih kepada ambisi pribadi, keinginan untuk diakui, ketakutan akan kegagalan, kesepian yang berkepanjangan, tekanan pekerjaan, atau relasi yang retak. Alkitab mengingatkan bahwa manusia bukanlah sumber kekuatan bagi dirinya sendiri. Seperti cabang yang hanya dapat berbuah jika melekat pada pokok anggur, demikian pula manusia hanya dapat hidup dengan benar dan kuat jika tetap melekat kepada Kristus, sebagaimana diajarkan dalam Yohanes 15:5. Amsal 3:5-6 juga menegaskan pentingnya bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dan bukan kepada pengertian sendiri, karena Tuhanlah yang meluruskan jalan manusia.

Karena itu, ketika kelelahan datang, berhentilah sejenak. Lepaskan beban yang bukan berasal dari Tuhan dan alihkan pandangan dari kegagalan, tekanan, serta ekspektasi diri kepada Yesus. Di dalam Dia terdapat kekuatan yang tidak pernah habis dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Hanya dengan menanti-nantikan Tuhan, jiwa yang lelah dapat dipulihkan dan kembali berjalan dengan pengharapan.

Sumber

  • LELAHKAH? OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 


Komentar

Postingan Populer