MATA TUHAN MELIHAT (AMSAL 15:3)

 

Dalam perjalanan hidup, manusia sering merasa berjalan sendirian. Ada saat-saat ketika kita mengira tidak ada seorang pun yang memperhatikan perjuangan yang kita jalani, air mata yang kita sembunyikan, atau godaan yang diam-diam kita hadapi. Kita merasa tidak terlihat ketika berusaha bertahan, dan merasa aman ketika hendak menyimpang karena mengira tidak ada yang mengetahui. Namun Alkitab menyatakan sebuah kebenaran yang mendalam bahwa ada Pribadi yang melihat jauh melampaui apa yang dapat dilihat manusia, yaitu Allah sendiri. Ia bukan hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi juga menyelami pergumulan batin, motivasi tersembunyi, dan niat terdalam hati manusia.

“Mata Tuhan Melihat” bukan sekadar peringatan bahwa Tuhan mengawasi manusia, melainkan penegasan bahwa penglihatan Tuhan bertujuan untuk menolong, membentuk, dan memulihkan kehidupan manusia. Tuhan tidak melihat sebagai pengamat yang jauh dan acuh tak acuh, melainkan sebagai Pribadi yang terlibat penuh dalam hidup ciptaan-Nya. Penglihatan-Nya selalu berjalan seiring dengan kasih, keadilan, dan kesetiaan-Nya.

Kitab Amsal merupakan kumpulan hikmat yang sebagian besar dikaitkan dengan Raja Salomo, yang dikenal karena hikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Kitab ini ditulis untuk menuntun umat Tuhan hidup dengan takut akan Allah dalam keseharian. Hikmat dalam Amsal tidak berhenti pada pengetahuan intelektual, melainkan diarahkan pada pembentukan karakter dan sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan. Setiap nasihat di dalamnya bertujuan membawa manusia hidup selaras dengan kehendak Allah.

Dalam konteks dunia kuno, banyak bangsa percaya bahwa para dewa hanya hadir di tempat-tempat tertentu, seperti kuil atau lokasi sakral. Di luar tempat-tempat itu, manusia merasa bebas dari pengawasan ilahi. Amsal menyatakan kebenaran yang sangat berbeda dan radikal pada zamannya, yaitu bahwa Tuhan melihat segala sesuatu tanpa dibatasi ruang dan tempat. Kesadaran ini menegaskan bahwa hidup yang benar tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi dengan pengakuan bahwa seluruh kehidupan manusia berlangsung di hadapan Allah.

Amsal 15:3 menyatakan, “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” Ayat ini singkat, tetapi mengandung kedalaman teologis yang besar. Ungkapan “mata TUHAN” merupakan bahasa antropomorfis, yaitu penggunaan gambaran manusia untuk menjelaskan sifat Allah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah memiliki mata secara fisik, melainkan menunjuk pada pengetahuan-Nya yang sempurna, perhatian-Nya yang aktif, serta keterlibatan-Nya yang nyata dalam kehidupan manusia. Dalam Perjanjian Lama, istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan Allah yang menyelidiki hati, menilai keadilan, dan memperhatikan umat-Nya.

Pernyataan bahwa mata Tuhan ada di segala tempat menegaskan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah. Tidak ada ruang yang tersembunyi dari pengamatan-Nya. Tuhan tidak hanya melihat ketika manusia berada di tempat ibadah atau melakukan aktivitas rohani, tetapi juga ketika berada di rumah, di tempat kerja, dalam perjalanan, bahkan dalam pikiran yang paling tersembunyi. Ia melihat saat manusia bersukacita, tetapi juga ketika terluka, gagal, dan merasa sendirian. Tidak ada satu pun detail kehidupan yang luput dari perhatian-Nya.

Ayat ini juga menyatakan bahwa Tuhan mengawasi orang jahat dan orang baik. Kata “mengawasi” menunjukkan pengamatan yang aktif dan penuh tujuan. Allah melihat dengan standar moral dan keadilan. Terhadap orang jahat, tidak ada kejahatan yang tersembunyi dari pandangan-Nya dan tidak ada kepura-puraan yang dapat menipu-Nya. Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Sebaliknya, terhadap orang benar, tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk diabaikan. Setiap air mata, kesetiaan yang dilakukan dalam diam, dan perjuangan yang tidak dihargai manusia, semuanya diperhatikan oleh Tuhan.

Dengan demikian, Amsal 15:3 menegaskan bahwa mata Tuhan berfungsi sebagai penghakiman bagi yang jahat dan sebagai perlindungan serta penghiburan bagi yang benar. Mata Tuhan bukan hanya mata yang mengawasi, tetapi juga mata yang menilai, membimbing, dan memelihara. Kesadaran ini mengajak setiap orang percaya untuk hidup dalam integritas. Integritas sejati tidak bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan manusia, melainkan pada keyakinan bahwa hidup selalu berada di hadapan Tuhan.

Ketika ketidakadilan terjadi dan kebaikan tidak dihargai, orang percaya dapat tetap hidup dengan tenang karena Tuhan melihat, Tuhan mencatat, dan Tuhan akan bertindak dengan adil. Mata Tuhan tidak pernah terpejam. Ia melihat kehidupan manusia dengan keadilan dan kasih yang sempurna. Bagi orang yang hidup benar, kebenaran ini menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Bagi mereka yang menyimpang, hal ini menjadi panggilan untuk bertobat. Di dalam Yesus Kristus, kita melihat secara sempurna bagaimana Allah memandang manusia, yaitu dengan kasih yang menebus dan kebenaran yang menyelamatkan.

 

Sumber

  • MATA TUHAN MELIHAT OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 


Komentar

Postingan Populer