MENGENAL DENGAN SUNGGUH (LUKAS 22:63)
Apakah
kita sungguh-sungguh mengenal pasangan, sahabat, atau bahkan diri kita sendiri?
Kata mengenal sering kali dipahami secara dangkal, sebatas mengetahui
nama, kebiasaan, atau hal-hal lahiriah. Namun, dalam Alkitab, kata “mengenal”
berasal dari istilah Ibrani yada, yang berarti mengenal secara mendalam,
sampai pada isi hati dan keberadaan terdalam seseorang.
Yesus
mengenal kita dengan cara seperti ini. Ia mengetahui seluruh kehidupan kita,
termasuk saat kita menolak, meragukan, atau berpaling dari-Nya. Dalam Lukas
22:63–71, Yesus mengalami penghinaan, pemukulan, dan ejekan. Para imam kepala,
ahli Taurat, dan tua-tua bangsa, yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran,
justru menjadi pelaku kekerasan dan ketidakadilan. Mereka membawa Yesus ke
hadapan Mahkamah Agama (Sanhedrin), bukan untuk mencari kebenaran, melainkan
untuk mencari-cari kesalahan. Tujuan mereka satu, yaitu menyalibkan Yesus.
Mereka
bertanya kepada-Nya, “Jika Engkau Mesias, katakanlah!” Namun Yesus mengetahui
bahwa hati mereka sudah tertutup. Mereka tidak sungguh-sungguh ingin percaya.
Karena itu Yesus menjawab, Jawab Yesus: "Sekalipun Aku mengatakannya
kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya (Luk. 22:67b).
Meski
demikian, Yesus tetap menyatakan kebenaran yang paling mendasar dan berani,
“Mulai sekarang Anak Manusia akan duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa”
(ay. 69). Pernyataan ini adalah pengakuan ilahi bahwa Ia adalah Anak Allah.
Akan tetapi, pengakuan tersebut justru dijadikan alasan untuk menghukum-Nya.
Mereka berkata, “Mengapa kita perlu saksi lagi? Kita sendiri telah mendengarnya
dari mulut-Nya” (ay. 71), lalu menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya.
Penolakan
terhadap Yesus terjadi karena harapan yang keliru. Banyak orang pada waktu itu
menginginkan Mesias politik, seorang pahlawan perang yang membebaskan mereka
dari penjajahan Romawi. Sebaliknya, Yesus datang sebagai Mesias yang menderita,
Raja yang rela menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa manusia.
Di
sinilah kebijaksanaan Yesus nyata. Ia mengenal siapa lawan bicara-Nya. Ia
mengetahui hati yang dipenuhi kebencian, kesombongan, dan ketidakpercayaan.
Karena itu, Ia tidak terjebak dalam perdebatan yang sia-sia. Ia tetap
menyampaikan kebenaran dengan tenang, bermartabat, dan penuh kasih.
Hari
ini, Yesus juga mengenal kita dengan sempurna. Ia mengetahui pikiran, rencana,
ketakutan, kegelisahan, kekecewaan, bahkan seluruh dosa kita. Ia tahu bahwa
kita sering ragu, sering menolak kehendak-Nya, dan sering memilih jalan yang
menurut pandangan manusia terasa benar. Namun, Ia tetap setia, tetap sabar, dan
tetap menanti kita kembali kepada-Nya.
Pada
akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Yesus mengenal kita, sebab Ia
sungguh mengenal kita sepenuhnya. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita
sungguh-sungguh mengenal Dia? Sudahkah kita percaya bahwa Ia adalah Anak Allah
yang mati dan bangkit bagi kita?
Ketika
kita dihina, ditolak, atau disalahpahami, marilah kita mengingat bahwa Yesus
telah lebih dahulu mengalaminya. Namun Ia tetap tenang, tetap setia, dan tetap
mengasihi. Dari Dia kita belajar untuk tidak membalas hinaan dengan hinaan,
tidak menjawab kebodohan dengan kebodohan, melainkan menyatakan kebenaran
dengan kasih, kesabaran, dan martabat.
Sumber
- YESUS PEMULIH YANG SEJATI OLEH EV.
BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
- YOUTUBE GSRI TOMANG:
https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th


Komentar
Posting Komentar