MENGENAL SUARA-NYA? (YOHANES 10:16)

 

Pernahkah kita merasa seolah-olah begitu banyak orang berbicara di sekitar kita, tetapi tidak ada satu pun suara yang benar-benar kita dengar? Hidup di tengah dunia yang bising sering kali membuat hati kita lelah. Opini, tuntutan, kekhawatiran, ekspektasi orang lain, bahkan suara dari dalam diri sendiri saling bersahutan meminta perhatian. Di tengah semua itu, ada satu suara yang kerap terlupakan, padahal Dialah satu-satunya suara yang sanggup menuntun kita pulang. Yesus berkata, “Mereka akan mendengarkan suara-Ku.” Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita masih mengenal suara-Nya?

Dalam Yohanes 10:16, Yesus berkata, “...dan mereka akan mendengarkan suara-Ku.” Pernyataan ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah undangan yang intim dari Sang Gembala Baik kepada domba-domba-Nya. Dalam konteksnya, Yesus sedang menegaskan otoritas-Nya atas seluruh umat-Nya, baik dari Israel maupun dari bangsa-bangsa lain. Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya Gembala yang benar, dan hanya domba-domba milik-Nya yang mampu mengenali serta mengikuti suara-Nya.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak orang, termasuk orang percaya, terjebak dalam kebisingan dunia. Kita hidup di zaman ketika kebenaran sering kali dianggap relatif dan setiap orang merasa memiliki versinya sendiri. Tanpa disadari, kita mulai lebih banyak mendengar suara dunia daripada suara Tuhan. Akibatnya, kita kehilangan kepekaan rohani. Kita tidak lagi mampu membedakan mana suara Sang Gembala dan mana suara asing. Bisikan lembut Roh Kudus tertutup oleh logika manusia, pengaruh media sosial, tren budaya, serta ketakutan yang dibentuk oleh pengalaman masa lalu.

Padahal, Yesus dengan tegas berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku” (Yohanes 10:27). Ini berarti bahwa pengenalan akan suara Tuhan bukanlah hal tambahan dalam iman Kristen, melainkan tanda bahwa hidup seseorang sungguh-sungguh menjadi milik Kristus. Mendengar dan mengenali suara-Nya adalah bagian dari relasi yang hidup dengan Sang Gembala.

Alkitab memberi banyak teladan tentang bagaimana manusia belajar mendengar suara Tuhan. Elia, misalnya, menemukan bahwa Tuhan tidak hadir dalam angin ribut, gempa bumi, atau api, melainkan dalam desau angin sepoi-sepoi yang lembut di Gunung Horeb. Samuel, ketika masih muda, belajar mengenali suara Tuhan dengan hati yang terbuka dan keberanian untuk berkata, “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu mendengar.” Maria, saudara Marta, memilih untuk duduk diam di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya, sementara dunia di sekitarnya sibuk dengan berbagai urusan. Ketiga kisah ini menunjukkan bahwa mendengar suara Tuhan membutuhkan keheningan hati, kerendahan diri, dan kesiapan untuk berhenti sejenak dari kesibukan.

Tuhan rindu membawa kita masuk ke dalam keheningan hadirat-Nya. Di sanalah suara-Nya yang lembut dapat dikenali dengan jelas. Firman-Nya bekerja seperti hujan dan salju yang turun dari langit, tidak kembali dengan sia-sia, tetapi mengubah, menyuburkan, dan memberi kehidupan. Firman Tuhan juga digambarkan sebagai pedang bermata dua yang melatih kepekaan rohani dan mempertajam pendengaran hati, sehingga kita mampu membedakan kehendak-Nya di tengah berbagai suara yang bersaing.

Karena itu, kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: suara siapakah yang sedang membentuk pikiran dan keputusan kita hari ini? Apakah suara dunia, suara ketakutan, suara ego, atau suara lembut Sang Gembala? Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa menyediakan ruang bagi Tuhan. Jangan abaikan waktu untuk diam dan membuka hati di hadapan-Nya.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia mempertajam dan melatih pendengaran rohani kita. Biarlah kita peka terhadap suara-Nya dalam setiap musim kehidupan, melalui firman, doa, dan bahkan melalui peristiwa sehari-hari yang Ia izinkan terjadi. Tuhan dapat berbicara dengan berbagai cara dan melalui siapa saja. Kiranya kita menjadi domba-domba yang mengenal suara Gembala-Nya dan dengan setia mengikut Dia ke mana pun Ia menuntun.

 

Sumber

·         MENGENAL SUARA-NYA? OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd

·         YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en

·         WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 

Komentar

Postingan Populer