SELALU MAU DIAJARI OLEH ALLAH (AMSAL 9:9)



         Ada sebuah kisah tentang seorang pemahat batu yang terkenal karena karyanya yang indah. Suatu hari seorang murid muda datang kepadanya dan berkata bahwa ia ingin belajar menjadi seperti gurunya. Pada beberapa minggu pertama, murid tersebut rajin, rendah hati, dan sungguh-sungguh mau belajar. Namun, setelah merasa cukup pandai, ia mulai menolak nasihat gurunya dan merasa tidak perlu lagi diajar. Akibatnya, karya yang dihasilkan menjadi kasar dan kehilangan keindahan. Kisah ini mencerminkan kehidupan rohani manusia. Ketika seseorang berhenti mau diajar oleh Allah, pada saat itu pertumbuhan rohaninya juga berhenti. Hati yang rendah dan mau belajar merupakan kunci untuk terus hidup dalam hikmat Tuhan.

Kitab Amsal ditulis untuk memberikan hikmat, pengertian, serta nasihat bagi kehidupan yang takut akan Tuhan. Amsal 9:9 hadir dalam konteks perbandingan antara hikmat dan kebodohan. Penulis menjelaskan bahwa orang bijak tidak pernah berhenti belajar, bahkan ketika ia telah memiliki banyak pengetahuan. Sebaliknya, orang bebal menolak pengajaran karena merasa dirinya sudah cukup tahu. Ayat ini menegaskan bahwa hikmat sejati tidak bersumber dari kemampuan manusia semata, tetapi dari kerendahan hati untuk terus diajar oleh Allah.

Menjadi pribadi yang selalu mau diajar oleh Allah berarti memiliki hati yang terbuka untuk menerima teguran, didikan, dan bimbingan Tuhan melalui firman-Nya, melalui orang lain, maupun melalui pengalaman hidup. Allah mengajar manusia dengan banyak cara, kadang melalui kesulitan, nasihat orang yang takut akan Tuhan, atau pembacaan Alkitab yang menyentuh hati. Namun, tidak semua orang bersedia belajar. Orang yang sombong menutup hatinya terhadap koreksi, sedangkan orang yang rendah hati menerima pengajaran sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap membuka hati terhadap firman Tuhan, bersedia menerima nasihat tanpa dikuasai ego, serta melihat setiap pengalaman hidup sebagai pelajaran dari Allah akan menolong seseorang semakin bijak, semakin dewasa dalam iman, dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Yesus Kristus menjadi teladan tertinggi tentang hati yang mau diajar oleh Allah. Walaupun Ia adalah Anak Allah, Yesus hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa. Filipi 2:8 menyatakan bahwa Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Kerendahan hati dan ketaatan Kristus menjadi teladan bagi umat percaya untuk senantiasa belajar, tunduk, dan terbuka terhadap kehendak Allah. Amsal 9:9 mengingatkan bahwa orang bijak bukanlah orang yang berhenti belajar, tetapi justru orang yang semakin rendah hati untuk terus diajar oleh Tuhan. Orang yang selalu mau diajar oleh Allah akan bertumbuh dalam hikmat dan kedewasaan rohani. Dengan memiliki hati seperti Kristus, yang rendah hati, mau diajar, dan terbuka terhadap didikan Tuhan, hidup kita akan semakin mencerminkan kemuliaan-Nya. Amin.

 

Sumber

  • SELALU MAU DIAJARI OLEH ALLAH OLEH EV. FERONI HULU, STh
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 

 


Komentar

Postingan Populer