TETAP PERCAYA DI TENGAH DUNIA YANG SIBUK (KOLOSE 3:23)


 

Rasul Paulus menasihati jemaat di Kolose yang hidup di tengah budaya Romawi yang sarat dengan penyembahan berhala, ketidakadilan, dan sistem kerja yang menindas. Dalam situasi sosial yang keras dan penuh tekanan tersebut, Paulus menegaskan bahwa iman Kristen tidak boleh berhenti pada pengakuan lisan semata. Iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara orang percaya menjalani pekerjaan dan tanggung jawabnya.

Melalui Kolose 3:23–24, Paulus mengingatkan bahwa setiap pekerjaan, apa pun bentuknya, harus dilakukan dengan segenap hati. Ungkapan “apa pun juga yang kamu perbuat” mencakup seluruh aktivitas hidup, baik pekerjaan kasar, pekerjaan kantoran, pelayanan di gereja, maupun tugas-tugas rumah tangga. Di hadapan Tuhan, tidak ada pekerjaan yang dianggap kecil atau tidak berarti. Yang Tuhan lihat bukanlah besar kecilnya pekerjaan, melainkan kesungguhan, totalitas, dan ketulusan hati. Sikap ini menjadi cerminan kasih kita kepada Allah, sebagaimana diajarkan dalam Ulangan 6:5, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.

Paulus juga menekankan bahwa pekerjaan harus dilakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Artinya, motivasi utama orang percaya bukanlah mencari pujian, pengakuan, atau semata-mata upah dari atasan, melainkan menyenangkan Tuhan. Kesadaran bahwa Tuhanlah yang memberi pekerjaan membuat orang percaya tetap menjaga integritas, bahkan ketika tidak ada pengawasan. Dengan sikap ini, iman Kristen menjadi nyata di tengah dunia kerja yang penuh persaingan dan kompromi.

Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan seorang pria bernama Andi, berusia 32 tahun, yang bekerja sebagai sales marketing di Jakarta. Ia hidup di tengah tekanan target, rapat hingga larut malam, dan tuntutan gaya hidup perkotaan yang tinggi. Namun, di balik kesibukannya, Andi berusaha setia kepada imannya kepada Yesus. Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, ia meluangkan waktu sekitar sepuluh menit untuk membaca Alkitab dan berdoa. Saat terjebak kemacetan, ia memilih mendengarkan podcast renungan Kristen. Ketika beberapa klien mengajaknya minum-minum atau pergi ke tempat hiburan malam demi melancarkan urusan bisnis, Andi menolak dengan sopan dan tetap berpegang pada prinsip imannya.

Ujian terbesar datang ketika Andi hampir diberhentikan dari pekerjaannya karena menolak terlibat dalam proyek yang mengandung unsur kecurangan. Dalam kondisi tersebut, ia mengadu kepada Tuhan dalam doa dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Meski berada dalam tekanan besar, ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Secara tidak terduga, seminggu kemudian seorang klien lama menghubunginya dan menawarkan proyek lain yang lebih baik dan bernilai lebih besar. Pengalaman ini menguatkan Andi bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia, meskipun sering kali mengandung risiko.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pekerjaan adalah bagian dari ibadah. Baik ketika kita menyapu lantai maupun menandatangani kontrak bernilai besar, Tuhan melihat hati yang mengasihi dan menghormati-Nya. Kesibukan bukanlah alasan untuk menjauh dari Tuhan. Justru di tengah tekanan dan tuntutan hidup yang padat, kita diajar untuk semakin bersandar kepada-Nya dan tetap percaya bahwa Tuhan hadir dan bekerja di tengah dunia yang sangat sibuk.

Top of Form

 

Sumber

  • TETAP PERCAYA DI TENGAH DUNIA YANG SIBUK OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer