TUHAN TETAP SANGGUP (YEREMIA 32:17)
Bayangkan seseorang diminta membeli sebidang tanah di sebuah kota yang sebentar lagi akan hancur. Secara logika, keputusan itu tampak keliru dan tidak masuk akal. Namun, itulah perintah Tuhan kepada nabi Yeremia. Di balik kehancuran yang akan terjadi, Tuhan sedang menuliskan kisah pemulihan. Yeremia taat bukan karena ia memahami seluruh rencana Tuhan, melainkan karena ia percaya bahwa Tuhan sanggup bekerja melampaui logika manusia.
Peristiwa
ini terjadi ketika Yerusalem sedang dikepung oleh tentara Babel, sekitar tahun
587 sebelum Masehi. Dalam situasi genting tersebut, Tuhan memerintahkan Yeremia
untuk membeli ladang di Anatot. Tindakan ini bersifat simbolis, sebuah
pernyataan iman bahwa pemulihan akan datang. Secara manusiawi, tindakan itu
tampak sia-sia. Namun, secara iman, hal itu menjadi deklarasi bahwa janji Tuhan
jauh lebih kuat daripada keadaan yang terlihat.
Dalam
Yeremia 32:17, pemazmur menggunakan ungkapan Ibrani lo yippalēʾ (לֹא־יִפָּלֵא),
yang berarti “tidak terlalu ajaib” atau “tidak terlalu sulit” bagi Tuhan.
Ungkapan ini menegaskan bahwa tidak ada perkara yang terlalu rumit, terlalu
rusak, atau terlalu berat bagi kuasa Allah. Yeremia sedang mengarahkan hatinya
untuk kembali mengingat siapa Tuhan itu, yaitu Sang Pencipta langit dan bumi.
Di tengah krisis, pengenalan akan kuasa Tuhan menjadi jangkar iman yang
meneguhkan.
Prinsip
ini juga berlaku dalam kehidupan orang percaya masa kini. Ketika situasi hidup
terasa tidak masuk akal dan penuh ketidakpastian, iman tidak dibangun di atas
keadaan, melainkan di atas pengenalan akan Tuhan yang berdaulat. Semakin kita
mengenal siapa Tuhan, semakin kita mampu percaya bahwa Ia tetap sanggup, bahkan
ketika semua tampak mustahil.
Dalam
terang Perjanjian Baru, Yeremia 32:17 menemukan penggenapannya di dalam Yesus
Kristus. Melalui Kristus, Allah menyatakan bahwa tidak ada yang mustahil,
bahkan maut pun dapat dikalahkan. Mukjizat-mukjizat Yesus, seperti menyembuhkan
orang buta, memberi makan lima ribu orang, dan membangkitkan Lazarus, menjadi
tanda bahwa kuasa Allah yang mencipta kini hadir secara nyata di tengah
manusia. Salib dan kebangkitan Kristus merupakan bukti puncak bahwa ketika
dunia mengira segala sesuatu telah berakhir, Allah justru menunjukkan kuasa-Nya
yang membawa hidup dari kematian.
Yesus
sendiri menegaskan kebenaran ini dengan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak
mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Matius 19:26). Iman sejati
tidak diukur dari keadaan yang mudah, melainkan dari keyakinan bahwa Tuhan
tetap berdaulat di tengah kesulitan. Ada kalanya Tuhan memanggil kita melakukan
hal-hal yang tampak tidak masuk akal, namun di sanalah benih iman ditanam untuk
pemulihan di masa depan. Jika Tuhan sanggup membangkitkan Yesus dari kubur,
maka Ia juga sanggup membangkitkan kembali pengharapan yang telah mati dalam
hidup kita.
Sumber
- TUHAN TETAP SANGGUP OLEH EV. SHINTA
LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE GSRI TOMANG:
https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar