YESUS PEMULIH YANG SEJATI (2 SAMUEL 21:14B)

 

        Dalam kehidupan ini, janji adalah sesuatu yang mudah diucapkan, tetapi sering kali sulit untuk dipertahankan. Di dunia manusia, tidak sedikit janji yang dilupakan atau bahkan diingkari, baik dalam relasi pribadi maupun dalam kehidupan sosial. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Tuhan. Tuhan adalah Allah yang setia. Ia tidak pernah melupakan janji-Nya, baik kepada umat-Nya maupun kepada mereka yang mengalami penindasan. Bahkan janji yang telah dibuat di masa lampau tetap diperhitungkan oleh Tuhan.

        Kisah dalam 2 Samuel 21 menjadi peringatan serius bahwa Allah tidak melupakan perjanjian yang pernah dibuat oleh umat-Nya, sekalipun perjanjian itu terjadi jauh di masa lalu. Pelanggaran terhadap perjanjian tersebut tetap menuntut pertobatan dan penebusan. Kisah ini berbicara tentang keadilan Allah dan menunjukkan bahwa pemulihan hanya dapat terjadi ketika umat-Nya bersedia membereskan pelanggaran yang pernah dilakukan.

        Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Daud sebagai raja Israel. Selama tiga tahun berturut-turut, kelaparan melanda bangsa Israel. Daud menyadari bahwa kelaparan ini bukanlah bencana alam biasa. Ia mencari wajah Tuhan, dan Tuhan menyatakan bahwa kelaparan tersebut merupakan akibat dosa Saul terhadap orang Gibeon. Saul telah melanggar perjanjian yang dibuat bangsa Israel pada zaman Yosua, yaitu janji untuk tidak membinasakan orang Gibeon (Yosua 9:15). Pelanggaran itu dilakukan Saul demi apa yang disebut sebagai semangat kebangsaan.

        Tindakan Saul tidak hanya melukai orang Gibeon, tetapi juga merusak integritas Israel sebagai bangsa perjanjian. Karena Tuhan adalah Allah yang adil dan setia, Ia tidak membiarkan pelanggaran perjanjian itu berlalu begitu saja, meskipun peristiwa tersebut telah terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

        Sebagai respons, Daud bertanya kepada orang Gibeon mengenai cara menebus kesalahan tersebut. Orang Gibeon tidak meminta harta atau uang, melainkan menuntut agar keturunan Saul dihukum. Daud kemudian menyerahkan tujuh orang dari keluarga Saul. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemulihan sering kali menuntut tindakan nyata yang berat dan menyakitkan. Namun, jalan inilah yang harus ditempuh demi keadilan dan pemulihan relasi dengan Allah.

        Kisah ini memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya penebusan untuk mengakhiri murka Allah. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus menjadi penggenapan tertinggi dari penebusan tersebut. Tidak ada satu pun keturunan manusia yang cukup sempurna untuk membayar pelanggaran dosa kita. Hanya Kristus yang sanggup menanggung dosa seluruh umat manusia dan mendamaikan kita dengan Allah (Ibrani 9:15). Melalui salib-Nya, Ia membayar pelanggaran terhadap perjanjian, dan melalui kebangkitan-Nya, kita menerima pemulihan serta kehidupan yang baru.

 

Sumber

  • YESUS PEMULIH YANG SEJATI OLEH EV. SDRI. JELIA FRISDA PURBA
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


 

Komentar

Postingan Populer