ALLAH ADA BERSAMAMU! (YESAYA 41:10)
Yesaya
41:10 merupakan bagian dari nubuat penghiburan yang disampaikan oleh Yesaya
kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam masa yang sangat sulit. Pada masa
itu, umat Allah hidup di bawah bayang-bayang ancaman pembuangan ke Babel
sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Ketakutan, rasa tidak aman, dan pergumulan
iman menyelimuti hati mereka. Banyak yang mulai bertanya-tanya dalam hati,
apakah Tuhan masih menyertai mereka ataukah Ia telah meninggalkan umat-Nya.
Tekanan dari bangsa-bangsa besar seperti Babel dan Asyur membuat Israel merasa
kecil, lemah, dan tidak berdaya di hadapan kekuatan dunia yang tampak begitu
mengintimidasi.
Di
tengah situasi yang penuh ketidakpastian itu, Allah menyampaikan firman
penghiburan melalui Nabi Yesaya. Tuhan menghibur umat-Nya yang putus asa dan
mengingatkan mereka bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas sejarah dan atas
bangsa-bangsa. Ia menegaskan bahwa iman umat-Nya tidak boleh bergeser hanya
karena penderitaan. Sekalipun keadaan tampak gelap, Allah tidak pernah
meninggalkan umat-Nya. Firman-Nya menegaskan bahwa kehadiran Tuhan tidak
bergantung pada situasi yang sedang dialami manusia, melainkan pada
kesetiaan-Nya yang tidak berubah.
Kebenaran
ini sering kali juga relevan dalam pengalaman pribadi kita. Ada kalanya
seseorang berada di tengah keramaian, dikelilingi banyak orang, tetapi hatinya
terasa kosong dan penuh beban. Dalam sebuah pengalaman sederhana, ketika berada
di tengah kesibukan pekerjaan di sebuah tempat di Jakarta, hati terasa berat
oleh pergumulan yang tidak terucap. Di saat itu, seorang rekan kerja dengan
penuh kepekaan bertanya mengapa wajah tampak begitu murung. Setelah dengan
jujur mengakui bahwa sedang menghadapi masalah besar, terucaplah kalimat
sederhana yang sangat menegur hati, bahwa jika Tuhan yang disembah adalah Tuhan
yang besar, mengapa tidak datang kepada-Nya dan menceritakan segala kesulitan
itu. Kalimat itu menjadi cermin yang memperlihatkan betapa mudahnya manusia
mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi dalam praktiknya justru mengandalkan
kekuatan dan kemampuan diri sendiri.
Kesadaran
akan hal itu membawa pada pertobatan yang tulus. Di tempat yang sunyi, air mata
menjadi ungkapan penyesalan karena telah lupa bahwa Tuhan hadir dan menyertai
di tengah pergumulan. Doa yang lahir dari hati yang remuk mengingatkan bahwa
manusia sering kali tidak melihat kehadiran Tuhan, padahal Tuhan setia berjalan
bersama anak-anak-Nya, bahkan ketika mereka merasa sendirian.
Yesaya
41:10 menegaskan janji Allah yang sangat menguatkan bagi setiap orang percaya.
Tuhan menyatakan bahwa Ia menyertai umat-Nya, yang berarti Ia tidak pernah
absen, bahkan di tengah penderitaan yang paling berat. Ia berjanji meneguhkan
umat-Nya, sehingga kekuatan hidup tidak perlu bersumber dari kemampuan manusia
semata, melainkan dari Allah yang menopang. Ia juga menjanjikan
pertolongan-Nya, bahwa Ia sendiri akan turun tangan menghadapi setiap musuh dan
masalah yang melampaui kekuatan manusia. Bahkan, Tuhan menjamin kemenangan
dengan tangan kanan-Nya yang berkuasa, sehingga sekalipun situasi tampak
mustahil, tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Janji
penyertaan ini digenapi secara sempurna dalam pribadi Yesus Kristus. Ia
menegaskan bahwa umat-Nya tidak akan ditinggalkan sebagai yatim piatu.
Kehadiran-Nya dinyatakan melalui Roh Kudus yang menyertai orang percaya di
sepanjang perjalanan hidup mereka. Allah yang sama yang menyertai Israel pada
zaman Yesaya adalah Allah yang sama yang hadir dalam hidup setiap orang percaya
hari ini. Ia berjalan bersama kita dalam kesedihan, menopang kita dalam
kelemahan, dan menuntun kita dalam pengharapan. Di dalam penyertaan-Nya, ada
kekuatan, ada pertolongan, dan ada kemenangan yang sejati.
Sumber
- ALLAH ADA BERSAMAMU! OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar