CINTA KARET GELANG (1 KORINTUS 13:7)

 

Suatu hari, seorang anak kecil merengek meminta dibelikan karet gelang berwarna-warni. Karet-karet itu kemudian diikat satu per satu, lalu ditarik-tarik. Tiba-tiba, karet tersebut putus. Melihat hal itu, sang anak segera menggantinya dengan karet yang baru. Sering kali, kita memperlakukan kasih dalam keluarga seperti karet gelang. Ketika ada ketegangan, kita menariknya. Ketika mulai terasa renggang, kita memaksakannya. Ketika akhirnya “putus”, kita mulai mencari pengganti.

Namun, Firman Tuhan memperkenalkan kepada kita kasih yang sama sekali berbeda. Bukan kasih seperti karet gelang, melainkan kasih yang seperti tali tiga lembar yang tidak mudah diputuskan. Dalam 1 Korintus 13:7 tertulis: “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Kata kuncinya adalah menanggung segala sesuatu. Dalam bahasa aslinya, ungkapan ini mengandung makna “menahan seperti atap”, yaitu melindungi dari badai dengan tetap berdiri teguh.

Bayangkan atap sebuah rumah. Saat hujan deras dan angin kencang datang, atap itu tidak terbang. Atap tersebut tetap melekat kuat, menahan panas terik dan hujan agar orang-orang di dalam rumah tetap kering dan aman. Inilah gambaran kasih sejati. Kasih sejati bukan sekadar perasaan hangat di dalam hati, melainkan keputusan untuk bertindak sebagai “atap pelindung”.

Ketika ucapan pasangan melukai hati, kita memilih menahan diri, bukan membalas. Ketika anak memberontak dan berkata kasar, kita memilih melindunginya melalui disiplin yang tepat, bukan menelantarkannya. Kasih adalah tindakan melindungi, bukan sekadar perasaan.

Pernahkah kita mendengar kisah orang tua atau kakek-nenek yang hidup langgeng hingga usia lanjut? Jarang sekali kita mendengar mereka mudah tersinggung atau “baper”. Ketika badai persoalan datang, mereka memilih bertahan. Mengapa mereka bertahan? Bukan karena perasaan suka itu selalu ada, melainkan karena adanya komitmen untuk saling menjadi “atap”. Mereka memilih untuk mengasihi.

Bayangkan sebuah keluarga: sang suami pulang kerja dengan tubuh lelah dan wajah muram karena tekanan pekerjaan. Sementara itu, sang istri di rumah sudah lelah mengurus anak seharian dan membereskan rumah yang nyaris tidak pernah rapi. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah untuk saling menyalahkan dan melontarkan kata-kata tajam seperti, “Kamu tidak perhatian!” atau “Kamu tidak mengerti!”

Pada titik inilah kasih berkata, “Aku memilih untuk menjadi atap. Aku akan menahan ucapanku yang tajam. Aku akan melindungi kita dari badai emosi ini.” Keputusan untuk bertahan adalah sebuah tindakan, bukan sekadar perasaan.

Demikian pula ketika anak memperoleh nilai yang kurang baik. Reaksi pertama orang tua mungkin adalah marah. Namun, dalam kasih yang menanggung segala sesuatu, kita berkata di dalam hati, “Aku adalah ibu/ayah. Aku akan menjadi atap pelindung bagi anakku.” Lalu kita berkata dengan lembut, “Mari kita lihat di mana letak kesulitanmu. Ibu/Ayah akan membantumu.” Di sinilah kita membuat pilihan untuk mengasihi.

Jadi, keluarga yang dikasihi Tuhan, kasih yang dimaksud di sini adalah keputusan setia untuk menjadi “atap pelindung”, bukan perasaan yang naik turun atau mudah melar dan putus seperti karet gelang. Minggu ini, cobalah mempraktikkan satu hal sederhana: ketika terjadi konflik atau ketegangan kecil di rumah, pilihlah menjadi “atap pelindung” selama lima menit. Tahanlah komentar yang tajam, lindungilah suasana hati dan suasana rumah, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Kasih seperti ini memang tidak selalu mudah. Namun, kita tidak melakukannya sendirian. Tuhan Yesus adalah “atap” kekal yang menanggung segala dosa kita. Dari Dialah kita belajar dan memperoleh kekuatan untuk mengasihi seperti yang Dia ajarkan. Bayangkan keluarga kita berada di bawah atap kasih yang saling melindungi. Itulah gambaran surga di bumi. Ketika kita memilih untuk setia mengasihi, Tuhan pasti memberkati setiap keputusan kasih yang kita ambil.

 

Sumber

  • CINTA KARET GELANG OLEH PDT. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer