DARI PUING KEHIDUPAN, TUHAN MEMBANGUN KEMBALI (YESAYA 61:3)

 

Yesaya 61:3 menyampaikan sebuah janji pemulihan yang indah: Tuhan mengaruniakan perhiasan kepala ganti abu, minyak pesta ganti kain kabung, dan nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, sehingga umat-Nya disebut “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya. Ayat ini lahir dari konteks penderitaan bangsa Israel pada masa pembuangan di Babel, ketika Yerusalem telah hancur dan umat Tuhan hidup dalam keputusasaan. Kehancuran itu bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga rohani dan emosional; mereka merasa seperti puing-puing yang tersisa setelah bencana besar.

Yesaya 61 merupakan bagian dari apa yang dikenal sebagai Kitab Penghiburan (Yesaya 40–66), yang berisi nubuat tentang pembebasan dan pemulihan. Di tengah keputusasaan umat, Tuhan menyatakan bahwa dukacita tidak akan menjadi kata terakhir. Ia sanggup mengubah abu menjadi perhiasan, perkabungan menjadi perayaan, dan semangat yang pudar menjadi nyanyian pujian. Gambaran “pohon tarbantin” menekankan kekuatan dan keteguhan: umat yang dipulihkan akan berakar dalam Tuhan, bertumbuh kuat, dan menjadi tanda nyata keagungan-Nya di hadapan bangsa-bangsa.

Pemulihan yang Tuhan janjikan tidak berhenti pada perubahan keadaan lahiriah. Tuhan memulihkan identitas umat-Nya—dari “puing” menjadi “saksi keagungan-Nya”. Mereka yang semula dipandang kalah dan tak berarti dipulihkan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Prinsip yang sama relevan bagi kehidupan orang percaya hari ini. Seperti Yerusalem yang hancur, hidup kita pun sering terasa porak-poranda: relasi rusak, mimpi runtuh, kesehatan terguncang, dan hati terluka. Ada persoalan yang tak sanggup diselesaikan oleh kekuatan manusia, terutama persoalan dosa yang merusak relasi kita dengan Allah dan sesama.

Di sinilah karya Yesus menjadi pusat pengharapan. Ia datang bukan untuk membuang hidup yang “rusak”, melainkan untuk memulihkan yang hancur. Seperti seorang tukang bangunan yang ulung, Tuhan memakai setiap puing pengalaman pahit, air mata yang bercucuran, dan hati yang remuk untuk membangun kembali kehidupan yang lebih kokoh dari sebelumnya. Ia bukan hanya memperbaiki, tetapi memperbarui—mengangkat hidup ke tujuan yang lebih mulia. Dari puing, Tuhan menumbuhkan kita menjadi “pohon kebenaran” yang hidupnya bersaksi tentang karya pemulihan-Nya, sehingga kita dapat menceritakan kepada banyak orang bagaimana Yesus mengubahkan segalanya.

Pada akhirnya, keterbatasan kita hari ini sering kali menjadi panggung bagi mukjizat Tuhan esok hari. Ketika hidup terasa seperti reruntuhan, iman mengajak kita untuk percaya bahwa Tuhan sedang menyusun ulang setiap kepingannya. Diamlah sejenak, pandang karya-Nya yang setia, dan pegang teguh janji-Nya: dari puing kehidupan, Tuhan sanggup membangun kembali dengan tujuan yang lebih mulia.

 

Sumber

  • DARI PUING KEHIDUPAN, TUHAN MEMBANGUN KEMBALI OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer