DIHANCURKAN UNTUK DIPULIHKAN (YEREMIA 18:4)

    Pernahkah kita melihat sebuah barang yang rusak lalu dibongkar oleh ahlinya? Dari luar, proses tersebut tampak seperti penghancuran, tetapi sesungguhnya bertujuan untuk memperbaiki. Bagian yang rusak dilepas agar dapat diganti, sehingga barang itu dapat berfungsi kembali dengan lebih baik. Demikian pula dalam hidup, ada masa-masa ketika rencana kita runtuh, harapan hancur, dan keadaan terasa tidak dapat diperbaiki. Pada saat-saat seperti itulah kita sering bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi.

    Firman Tuhan dalam Yeremia 18:4 berkata: “Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” Ayat ini disampaikan Tuhan kepada Nabi Yeremia melalui gambaran seorang tukang periuk dan tanah liat. Melalui gambaran ini, Tuhan menegur bangsa Israel yang keras hati sekaligus menyatakan bahwa Ia berkuasa membentuk kembali apa yang telah rusak.

    Tanah liat menggambarkan keterbatasan dan kerapuhan manusia, sedangkan tukang periuk melambangkan Allah yang berdaulat. Ketika bejana itu rusak, tukang periuk tidak membuang tanah liat tersebut, melainkan membentuknya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa kehancuran bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan. Tuhan tidak menghancurkan untuk menyakiti, tetapi untuk memperbaiki dan membentuk hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya yang baik.

    Dalam terang Kristologi, karya pemulihan Allah dinyatakan secara sempurna di dalam Yesus Kristus. Kristus sendiri mengalami kehancuran secara manusiawi melalui penderitaan dan kematian di kayu salib. Namun, kehancuran itu bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan dan pemulihan. Melalui salib, Allah memulihkan hubungan manusia dengan diri-Nya dan menganugerahkan hidup yang baru. Di dalam Kristus, kehancuran hidup kita tidak pernah sia-sia, sebab Allah sanggup mengubahnya menjadi sarana pembaruan.

    Bagi para pemuda dan semua orang percaya, renungan ini mengingatkan bahwa kegagalan, kekecewaan, dan proses yang menyakitkan tidak berarti Tuhan meninggalkan kita. Justru sering kali Tuhan sedang bekerja membentuk karakter, iman, dan ketergantungan kita kepada-Nya. Ketika rencana kita hancur, Tuhan sedang membuka jalan bagi rencana-Nya yang lebih baik. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang mau dibentuk dan berserah di tangan-Nya.

    Akhirnya, kita diajak untuk memercayai tangan Tuhan sebagai Tukang Periuk yang penuh kasih. Jika hari ini hidup terasa hancur, ingatlah bahwa Tuhan belum selesai berkarya. Di dalam Kristus, kehancuran bukanlah akhir, melainkan awal dari pemulihan yang indah. Tuhan sanggup membentuk kembali hidup kita menjadi bejana yang berguna bagi kemuliaan-Nya.

Sumber

  • DIHANCURKAN UNTUK DIPULIHKAN OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 

Komentar

Postingan Populer