JADI ORANG TUA GALAK VS ORANG TUA LEMBUT? (EFESUS 6:4)

 

    Apa kabar, keluarga-keluarga yang dikasihi Tuhan! Sebagai orang tua, kita mungkin pernah mengalami momen saat menghadapi anak yang merajuk, melihat kamar mereka berantakan, atau mendapati tugas sekolah yang belum dikerjakan. Saat itulah, hati kita sebagai orang tua mulai bergejolak.

    Di satu sisi, muncul amarah dan keinginan untuk membentak, “Ayo, bereskan sekarang!” Namun di sisi lain, ada suara lembut yang berbisik, “Sudahlah, kasihan, nanti juga akan beres sendiri.” Kedua suara ini seolah menjebak kita dalam dua pilihan ekstrem: menjadi Orang Tua Galak atau Orang Tua Lembut. Mana yang benar? Kita sering kali merasa bersalah seolah harus memilih salah satunya.

    Ternyata, Allah dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas tidak meminta kita untuk memilih. Dia memberikan resep yang utuh dalam Efesus 6:4: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Mari kita selami dua kata kunci dalam bahasa aslinya:

1.    “Janganlah bangkitkan amarah” (bermakna: jangan menyakiti hati). Frasa ini berbicara tentang sikap hati. Ini adalah larangan terhadap pola asuh yang otoriter, keras, menghina, merendahkan, tidak konsisten, atau yang mematahkan semangat anak. Ini merupakan peringatan bagi sosok “Orang Tua Galak” yang berisiko merusak relasi dengan buah hatinya.

2.    “Didiklah” (bermakna: mengasuh). Kata ini tidak merujuk pada kelemahan. Sebaliknya, ini adalah kata yang kuat dan aktif yang berarti mendidik, melatih, serta menertibkan. Kata ini selaras dengan menunjukkan ketegasan, aturan, dan disiplin. Di dalamnya tercakup tindakan mengoreksi dan memberi batasan yang tujuannya bukan untuk melukai, melainkan untuk membentuk karakter menjadi baik dan indah.

    Bayangkan seorang penjunan (pembuat tembikar) yang sedang membentuk vas yang indah. Ia menggunakan dua hal: alat pemutar yang kuat dan tangan yang lembut. Alat pemutar itu berputar kencang dan memberikan tekanan. Namun, jika hanya ada tekanan dari alat pemutar, tanah liat itu akan tercerai-berai dan hancur. Di situlah tangan lembut sang penjunan bekerja. Ia membasahi, menopang, dan membentuk dengan penuh perhatian untuk memuluskan permukaan vas tersebut. Sentuhan lembut itu mencegah tanah liat menjadi kering, retak, atau rusak.

    Melalui renungan ini, Allah menuntun kita bukan untuk menjadi “Galak” atau “Lembut,” melainkan menjadi orang tua yang “Tegas sekaligus Lembut.” Disiplin yang diberikan tanpa kasih hanya akan membangkitkan amarah. Sebaliknya, kasih yang diberikan tanpa ketegasan dan batasan hanya akan menghasilkan kekacauan.

Mari kita renungkan:

1.    Apakah ketegasan kita selama ini lebih banyak melukai hati dan mematahkan semangat anak?

2.    Ataukah kelembutan kita selama ini justru gagal membentuk karakter mereka?

    Tugas kita sebagai orang tua bukanlah memilih untuk menjadi hakim yang galak atau teman yang selalu serba membolehkan. Tugas kita adalah menjadi penjunan yang bijak; memberikan bentuk dan batasan yang jelas, namun selalu dengan sentuhan lembut yang membuat anak merasa aman, dikasihi, dan dihargai. Ketegasan adalah untuk kebaikan mereka, sementara kelembutan adalah untuk kesehatan jiwa mereka.

    Allah kita adalah Bapa yang sempurna. Di satu sisi, firman-Nya teguh dan tidak berkompromi dengan dosa. Di sisi lain, Dia adalah Bapa yang penuh kasih dan pengampunan. Mari kita mencerminkan keseimbangan kasih-Nya yang agung itu di dalam keluarga kita masing-masing.


Sumber

  • JADI ORANG TUA GALAK VS ORANG TUA LEMBUT? OLEH PDT. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

 


Komentar

Postingan Populer