KETIKA TUHAN BERTINDAK (2 SAMUEL 22:8)

 

Ada seorang ibu yang anaknya diperlakukan tidak adil di sekolah. Anak itu dilecehkan, dikucilkan, bahkan disakiti. Pada awalnya sang ibu masih bersabar. Namun, ketika melihat anaknya pulang dengan luka di tubuh dan air mata di wajah, hatinya tidak sanggup lagi berdiam diri. Ia datang ke sekolah, berbicara dengan guru dan kepala sekolah, lalu melibatkan pihak berwenang. Hati seorang ibu tidak mungkin tinggal diam ketika melihat anaknya menderita.

Dalam 2 Samuel 22:8, Daud menggambarkan bagaimana Tuhan bertindak ketika ia berseru dalam kesesakannya. Ia menuliskan bahwa bumi bergoncang dan langit gemetar. Bahasa ini bersifat puitis, melukiskan kedahsyatan kuasa Tuhan saat membela umat-Nya dari ketidakadilan. Ayat ini tidak berfokus pada bencana alam semata, melainkan pada reaksi Allah terhadap ketidakadilan yang dialami hamba-Nya.

Daud menyadari bahwa ketika manusia menyerangnya dan seolah-olah tidak ada seorang pun yang menolong, Tuhan tidak tinggal diam. Allah melihat ketidakadilan itu dan bertindak. Ia murka terhadap kejahatan dan tidak membiarkan umat-Nya tertindas tanpa pembelaan. Keyakinan inilah yang memberi Daud keberanian untuk berseru kepada Tuhan di tengah tekanan yang berat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengalami hal serupa. Ketidakadilan bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti fitnah, penghinaan, pengkhianatan, atau perlakuan tidak adil. Tidak jarang kita hanya mampu menangis dalam doa, berharap ada yang membela. Mungkin hari ini ada di antara kita yang merasa seperti Daud, diserang dari berbagai arah, dilukai, dan seolah-olah dilupakan.

Dalam keadaan seperti itu, kita mudah berpikir bahwa Tuhan diam dan tidak menolong. Namun, seperti hati seorang ibu yang tergerak ketika melihat anaknya disakiti, demikian pula hati Tuhan tergerak ketika melihat anak-anak-Nya menderita. Tuhan tidak duduk diam. Ia mendengar seruan doa kita dan peduli terhadap apa yang kita alami. Ketika kita menghadapi ketidakadilan, kita dipanggil untuk menyerahkan perkara itu kepada Tuhan dan membiarkan Dia yang bertindak.

Pembalasan bukanlah milik kita, melainkan milik Tuhan. Ketika Tuhan yang bertindak, hasilnya jauh melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Oleh karena itu, kita diajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan berseru kepada Tuhan dengan iman dan pengharapan. Jika bumi dapat bergoncang oleh murka-Nya, maka tidak ada persoalan hidup kita yang terlalu kecil untuk diperhatikan oleh-Nya.

Sumber

  • KETIKA TUHAN BERTINDAK OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer