MENGUBAH ORANG LAIN? (EFESUS 4:15)


 

Apakah Bapak dan Ibu pernah merasa frustrasi karena seseorang tidak berubah seperti yang kita harapkan? Atau mungkin kita sedang berjuang untuk “mengubah” orang lain agar menjadi lebih baik, tetapi tanpa sadar justru memaksa mereka menjadi versi dari diri kita sendiri? Sering kali kita berpikir bahwa kita sedang membawa orang lain kepada kebenaran, padahal perlu kita renungkan dengan jujur: apakah kita sungguh membawa mereka kepada Kristus, atau hanya kepada cara pikir dan kehendak kita sendiri?

Ayat yang kita renungkan hari ini adalah Efesus 4:15, yang mengatakan bahwa kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus yang hidup di tengah keberagaman budaya, agama, dan pemikiran. Banyak di antara mereka sebelumnya adalah penyembah dewa-dewa Yunani atau dipengaruhi oleh filsafat dunia yang menekankan pengetahuan dan logika. Dalam konteks itulah Paulus mengingatkan agar mereka tidak saling menghakimi atau memaksakan pandangan, melainkan bertumbuh bersama sebagai tubuh Kristus. Pertumbuhan rohani bukanlah tentang mengubah orang lain agar sesuai dengan pendapat kita, melainkan tentang menjadi semakin serupa dengan Kristus yang penuh kasih, sabar, dan lemah lembut.

Yesus juga pernah menegur orang-orang yang sangat rajin membaca Kitab Suci, tetapi hatinya jauh dari Allah. Ia berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku” (Yohanes 5:39). Firman ini mengingatkan kita bahwa Alkitab bukan tujuan akhir, melainkan jalan yang menuntun kita kepada Kristus. Kita bisa saja rajin membaca Alkitab, menuntut orang lain menaati aturan, tetapi lupa bahwa inti iman Kristen adalah hubungan dengan Yesus, bukan sekadar kepatuhan pada sistem.

Karena itu, semua yang kita lakukan, semua yang kita sampaikan, dan semua yang kita dorong kepada orang lain harus kembali kepada Kristus. Kita tidak dipanggil untuk membuat orang lain menjadi pengikut pendapat kita, melainkan untuk membawa mereka kepada Dia yang dinyatakan oleh Alkitab. Orang yang sungguh dewasa secara rohani tidak akan berkata, “Kamu harus berpikir seperti aku,” tetapi dengan rendah hati berkata, “Mari kita melihat bagaimana Yesus bekerja dalam hidupmu.”

Sering kali kita cepat menilai bahwa jika seseorang tidak percaya atau bersikap seperti kita, maka ia pasti salah. Padahal Allah melihat hati nurani manusia, bukan sekadar penampilan luar. Ia memberi ruang bagi kebenaran-Nya untuk bekerja secara perlahan dalam hidup seseorang. Yesus sendiri tidak pernah memaksa orang untuk percaya kepada-Nya. Ia menunjukkan kasih, menyatakan kebenaran, melakukan karya-karya kasih, lalu mengundang dengan lembut, “Datanglah kepada-Ku.” Dengan cara yang sama, kita dipanggil untuk menjadi alat Allah yang memancarkan kasih, bukan alat yang menekan dan memaksa kepatuhan.

Karena itu, janganlah kita kehilangan kesabaran terhadap orang lain. Ingatlah bagaimana Allah memperlakukan kita ketika kita masih jauh dari-Nya, dengan penuh kasih, pengampunan, dan kesabaran. Terimalah sesama, doakan mereka, dan bawalah mereka kepada Allah, bukan kepada pendapat atau standar pribadi kita. Amanat Yesus jelas: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19), bukan menjadikan mereka penganut cara pikir kita. Kita tidak disuruh mengubah orang lain menjadi seperti diri kita, melainkan membawa mereka kepada Kristus yang akan mengubah mereka dari dalam.

Kiranya kita belajar mengukur hidup kita hanya dengan tolok ukur Kristus. Kenakanlah kuk yang berasal dari Yesus, dan berhati-hatilah agar jangan menaruh kuk yang bukan dari Kristus di atas pundak orang lain. Sebab satu-satunya kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang lahir ketika Yesus bekerja di dalam hati nurani kita.

 

Sumber

  • MENGUBAH ORANG LAIN? OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun: 

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

Komentar

Postingan Populer