TUHAN HADIR DALAM KESENDIRIAN KITA (MAZMUR 139:7)
Dalam
catatan harian seorang misionaris bernama David Livingstone, ia pernah
menuliskan pengalamannya ketika melayani di pedalaman Afrika. Pada suatu malam,
ia harus beristirahat sendirian di tengah ancaman binatang buas dan
ketidakpastian masa depan. Dalam kesunyian itu, rasa takut dan kesepian begitu
kuat. Namun, Livingstone kemudian menulis bahwa ia menemukan penghiburan besar
ketika menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Kesendirian yang
semula terasa menakutkan justru menjadi ruang perjumpaan yang mendalam dengan
Allah. Kisah ini menggambarkan bahwa kesendirian manusia tidak pernah berarti
keterpisahan dari hadirat Tuhan.
Alkitab
menegaskan kebenaran ini dalam Mazmur 139:7, “Ke mana aku dapat pergi
menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?.” Mazmur ini
ditulis oleh Daud sebagai pengakuan iman akan Allah yang mahahadir dan
mahatahu. Dalam konteks hidup Daud yang penuh pergumulan, baik saat ia dikejar
musuh maupun ketika ia berada jauh dari orang-orang terdekatnya, keyakinan akan
kehadiran Tuhan menjadi sumber penghiburan dan kekuatan.
Pertanyaan
retoris yang diajukan pemazmur tidak dimaksudkan untuk mencari jawaban,
melainkan untuk menegaskan bahwa tidak ada tempat di mana manusia dapat
terlepas dari kehadiran Allah. Istilah “hadapan-Mu” menunjuk pada relasi yang
aktif dan pribadi, bukan sekadar keberadaan yang abstrak. Kehadiran Tuhan bukan
hanya bersifat geografis, tetapi relasional, menyertai, dan memperhatikan
setiap keadaan manusia, termasuk dalam kesendirian yang paling dalam.
Kehadiran
Allah mencapai kepenuhannya di dalam Yesus Kristus. Yohanes 1:14 menyatakan,
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Allah tidak
hanya menyatakan bahwa Ia hadir, tetapi Ia masuk ke dalam pengalaman manusia
sepenuhnya, termasuk pengalaman kesendirian. Yesus mengalami kesendirian ketika
ditinggalkan murid-murid-Nya, disangkal oleh Petrus, dan bahkan ketika berseru
di kayu salib. Namun, melalui kebangkitan-Nya, Kristus menunjukkan bahwa
kesendirian dan penderitaan bukanlah akhir dari karya Allah.
Yesus
juga memberikan janji penghiburan kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke
surga. Dalam Matius 28:20 “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman.” Janji ini menegaskan bahwa kehadiran Kristus tidak
dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan terus menyertai orang percaya melalui
Roh Kudus. Dengan demikian, kesendirian orang percaya tidak pernah bersifat
mutlak, karena selalu ada hadirat Tuhan yang menyertai.
Pemahaman
bahwa Tuhan hadir dalam kesendirian menolong orang percaya menjalani hidup
dengan pengharapan. Ketika manusia merasa tidak dipahami, tidak didengar, atau
ditinggalkan, kehadiran Tuhan menjadi penghiburan yang sejati. Tuhan melihat
air mata yang tidak tertumpah di hadapan siapa pun dan mendengar doa yang hanya
terucap di dalam hati. Kesendirian, dalam terang iman, dapat menjadi ruang
pemulihan dan pendalaman relasi dengan Tuhan.
Akhirnya, kesadaran akan kehadiran Tuhan mengajak kita untuk tidak melarikan diri dari kesendirian, melainkan mengisinya dengan doa dan persekutuan dengan Kristus. Di dalam Yesus, Allah hadir secara nyata dan setia menyertai umat-Nya. Kesendirian bukan lagi tempat ketakutan, melainkan kesempatan untuk mengalami kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan dan tidak pernah mengabaikan umat-Nya.
Sumber
- TUHAN HADIR DALAM KESENDIRIAN KITA OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev.
Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar
Posting Komentar