TUHAN MENOLONG AKU (2 SAMUEL 22:4)
Dalam
perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah diperhadapkan pada situasi yang
menyesakkan jiwa, keadaan yang menghimpit hingga seolah tidak ada lagi jalan
keluar. Masalah pekerjaan, tekanan ekonomi, lilitan utang yang seakan tak
berujung, dan berbagai pergumulan hidup sering datang silih berganti. Ketika
masalah terus berdatangan, kita mudah lelah dan putus asa. Pada saat-saat
seperti inilah muncul sebuah pertanyaan penting: kepada siapa kita datang
ketika beban hidup terasa terlalu berat.
Banyak
orang memilih menyelesaikan persoalan dengan kekuatannya sendiri. Ada yang
mencoba menutup satu masalah dengan masalah yang lain, misalnya menutup utang
dengan utang baru yang lebih besar, berharap ada sisa untuk kebutuhan hidup.
Namun cara ini tidak menyelesaikan akar persoalan. Yang terjadi justru beban
semakin menumpuk dan masalah kian membesar. Ketika manusia mengandalkan
kekuatan sendiri tanpa hikmat dari Tuhan, solusi yang diambil sering hanya
bersifat sementara dan membawa konsekuensi yang lebih berat di kemudian hari.
Dalam
nyanyian pujian Daud yang tertulis dalam 2 Samuel 22:4, kita melihat kesaksian
yang indah tentang pertolongan Tuhan. Hidup Daud penuh dengan tekanan dan
tantangan. Sejak masa mudanya hingga menjadi raja, ia mengalami ancaman,
pengkhianatan, peperangan, dan pergumulan yang tidak ringan. Bahkan setelah
menjadi raja pun, masalah tidak berhenti. Namun di tengah semua kesesakan itu,
Daud memiliki satu sikap iman yang konsisten, yaitu datang kepada Tuhan dan
berseru kepada-Nya.
Makna berseru bukan sekadar mengeluarkan suara keras atau meluapkan emosi, melainkan menyampaikan seluruh pergumulan kepada Tuhan dengan hati yang rendah dan jujur, mengakui ketidakberdayaan diri. Berseru berarti mengosongkan keangkuhan, berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan mengakui bahwa hanya Tuhan yang sanggup menolong serta menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Ketika seseorang datang kepada Tuhan dengan sikap hati seperti ini, ia sedang membuka ruang bagi karya pertolongan Tuhan yang nyata dalam hidupnya.
Mengikut
Tuhan tidak berarti kita dijanjikan jalan hidup yang selalu mulus. Tokoh iman
seperti Daud pun tidak lahir dari kemudahan. Namun pengharapan kita berdiri
teguh pada kebenaran bahwa persoalan hidup yang paling berat, yaitu dosa dan
keterpisahan manusia dari Allah, telah Tuhan selesaikan di kayu salib melalui
pengorbanan Yesus Kristus. Jika perkara terbesar telah Tuhan tanggung dan
selesaikan, maka kita boleh percaya bahwa Tuhan juga sanggup menolong kita
menghadapi pergumulan hidup sehari-hari, seberat apa pun itu.
Firman
Tuhan dalam Kisah Para Rasul 2:21 menegaskan bahwa barangsiapa yang berseru
kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Janji ini bukan hanya berbicara tentang
keselamatan kekal, tetapi juga tentang pertolongan Tuhan yang nyata dalam
perjalanan hidup orang percaya. Oleh karena itu, ketika beban terasa berat dan
jalan tampak buntu, datanglah kepada Tuhan, berserulah kepada-Nya dengan hati
yang rendah, dan percayalah bahwa Tuhan setia menolong. Dalam setiap musim
kehidupan, pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat, dan kasih setia-Nya akan
menyertai kita hari demi hari.
Sumber
- TUHAN MENOLONG AKU OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev.
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar