TUHAN TIDAK MEMPERMALUKAN DIRI-NYA (ROMA 10:11)

 

        Dalam hidup, kita belajar bahwa manusia dapat gagal dan membuat kita kecewa, keadaan dapat berubah, dan rencana dapat runtuh.  Ada yang dijanjikan pertolongan tetapi tidak datang. Ada yang diberi harapan tetapi berakhir dengan kekecewaan. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa ada satu Pribadi yang tidak pernah mempermalukan diri-Nya, yaitu Tuhan yang setia kepada janji-Nya dan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.

        Suatu ketika, seorang anak kecil mengikuti lomba lari di sekolahnya. Ia bukan pelari tercepat dan beberapa kali hampir jatuh. Banyak orang mulai mengira ia akan menyerah. Tetapi dari tepi lapangan, ayahnya berdiri dan memanggil namanya. Sang anak tidak berlari demi piala, tetapi karena yakin ayahnya percaya ia bisa menyelesaikan lomba. Ia akhirnya mencapai garis akhir, bukan karena paling kuat, tetapi karena percaya kepada suara yang memberinya keyakinan. Demikian hidup kita. Kita mungkin tidak selalu menang menurut ukuran dunia, tetapi ketika kita percaya kepada Tuhan, hidup kita tidak akan berakhir dalam rasa malu, karena Tuhan tidak pernah mempermalukan orang yang mengandalkan-Nya.

        Firman Tuhan dalam Roma 10:11 berkata,Karena Kitab Suci berkata: ”Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Ayat ini hadir dalam konteks Paulus berbicara tentang keselamatan oleh iman. Orang Yahudi pada waktu itu lebih mengandalkan usaha dan hukum, sedangkan Paulus menegaskan bahwa keselamatan dan pengharapan sejati hanya ada dalam Kristus. Latar belakang ini menegaskan bahwa Tuhan tidak mempermalukan diri-Nya, sebab Ia setia kepada karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya.

        Kata “tidak akan dipermalukan” berarti tidak akan dikecewakan, tidak akan ditinggalkan, tidak akan berakhir dalam kehinaan dan kegagalan rohani. Ini bukan jaminan bahwa hidup selalu mudah, tetapi jaminan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan mereka yang percaya kepada-Nya berakhir tanpa pertolongan dan pembelaan ilahi. Iman kepada Tuhan bukan tindakan sia-sia. Ketika seseorang menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan, ia sedang menaruh hidupnya pada Pribadi yang tidak mungkin gagal menepati janji-Nya.

        Banyak orang mengira salib adalah kekalahan dan aib. Namun, kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Tuhan tidak mempermalukan diri-Nya. Apa yang tampak memalukan di mata dunia ternyata menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah manusia. Melalui Kristus, Tuhan menunjukkan bahwa karya-Nya tidak pernah setengah jalan dan tidak pernah berakhir dengan kegagalan. Salib yang tampak memalukan justru menjadi bukti bahwa Tuhan memuliakan nama-Nya dengan cara yang melampaui pemikiran manusia.

        Renungan ini mengajar kita untuk berani percaya kepada Tuhan dalam keadaan apa pun. Mungkin saat ini ada yang menghadapi ketidakpastian ekonomi, pergumulan keluarga, kegagalan pendidikan, atau kekecewaan hubungan. Dunia mungkin memandang keadaan kita sebagai kegagalan, tetapi Tuhan melihatnya sebagai proses. Selama kita tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, hidup kita tidak akan berakhir dengan malu. Tuhan akan menunjukkan kesetiaan-Nya. Ia tahu kapan harus menolong, bagaimana harus bertindak, dan di mana kemuliaan-Nya akan dinyatakan.

        Marilah kita hidup dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah mempermalukan diri-Nya melalui hidup umat yang percaya kepada-Nya. Ketika kita berjalan dengan iman, mungkin jalan tidak selalu mudah, tetapi kita tidak berjalan sendirian. Tuhan setia menyertai, memelihara, dan menggenapi setiap rencana-Nya. Barangsiapa percaya kepada Tuhan tidak akan dipermalukan, karena Tuhan adalah Allah yang setia, berkuasa, dan tidak pernah gagal dalam setiap janji-Nya.

 

Sumber

  • TUHAN TIDAK MEMPERMALUKAN DIRI-NYA OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

Komentar

Postingan Populer