UJILAH AKU (MALEAKHI 3:10)
Banyak orang percaya mengakui keberadaan Tuhan,
namun tidak semuanya berani menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Iman
sering kali berhenti pada pengakuan, tanpa diwujudkan dalam ketaatan yang
konkret. Dalam situasi inilah firman Tuhan melalui Maleakhi 3:10 menjadi sangat
relevan, karena Allah bukan hanya memanggil umat-Nya untuk percaya, tetapi juga
mengundang mereka untuk membuktikan iman itu melalui ketaatan yang nyata. Ungkapan
“ujilah Aku” merupakan pernyataan yang unik dalam Alkitab, karena Allah sendiri
yang mengundang umat-Nya untuk mengalami kesetiaan dan pemeliharaan-Nya secara
langsung.
Kitab Maleakhi ditulis dalam konteks
pascapembuangan, ketika bangsa Israel telah kembali ke tanah mereka tetapi
mengalami kemerosotan rohani. Meskipun Bait Allah telah dibangun kembali,
kehidupan iman umat menjadi formal dan kehilangan kesungguhan. Ketidaksetiaan
dalam ibadah, termasuk dalam membawa persembahan persepuluhan, mencerminkan
lemahnya relasi umat dengan Tuhan.
Melalui nabi Maleakhi, Tuhan menegur umat-Nya
sekaligus menyatakan janji pemeliharaan jika mereka kembali hidup dalam
ketaatan. Maleakhi 3:10 menjadi seruan Allah agar umat-Nya mempercayai Dia
sepenuhnya. “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah
perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku,
firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap
langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Perintah “ujilah Aku” bukanlah ajakan untuk mencobai
Tuhan dengan sikap meragukan, melainkan undangan ilahi untuk hidup dalam iman
yang taat. Allah menyatakan diri-Nya sebagai Pribadi yang setia pada janji-Nya.
Ungkapan “tingkap-tingkap langit” melambangkan kelimpahan berkat yang melampaui
perhitungan dan kemampuan manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa pemeliharaan Allah tidak
terbatas dan tidak bergantung pada kondisi ekonomi umat-Nya, melainkan pada
kesetiaan-Nya sendiri. Ketaatan umat membuka ruang bagi pengalaman nyata akan
kesetiaan Allah.
Janji
pemeliharaan Allah dalam Maleakhi mencapai penggenapan tertingginya dalam Yesus
Kristus. Di dalam Kristus, Allah bukan hanya memberikan berkat, tetapi
memberikan diri-Nya sendiri sebagai berkat terbesar bagi manusia. Salib Kristus
menyatakan bahwa Allah rela menyerahkan Anak-Nya demi keselamatan umat manusia.
Rasul
Paulus menegaskan bahwa jika Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, maka
umat-Nya dapat yakin bahwa Allah sanggup mencukupi dan memelihara seluruh
kehidupan mereka (Roma 8:32). Secara kristologis, iman dan ketaatan orang
percaya berakar pada kasih karunia Allah yang telah dinyatakan terlebih dahulu
dalam Kristus.
Banyak
orang menginginkan berkat Tuhan, tetapi ragu untuk menyerahkan hidup sepenuhnya
kepada-Nya. Maleakhi 3:10 menantang orang percaya untuk mempercayakan seluruh
aspek kehidupan, keuangan, pelayanan, masa depan, dan pergumulan ke dalam
tangan Tuhan. Ketaatan bukanlah cara untuk memanipulasi Tuhan, melainkan
respons iman terhadap kesetiaan-Nya. Dalam ketaatan itulah orang percaya
mengalami bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan waktu-Nya yang terbaik.
“Ujilah
Aku” menegaskan bahwa Allah adalah Pribadi yang setia dan dapat dipercaya.
Undangan Allah untuk “diuji” menunjukkan kasih dan kesediaan-Nya agar umat-Nya
mengalami sendiri kebaikan dan pemeliharaan-Nya.
Sumber
- UJILAH AKU OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar