BERTUMBUH DI TENGAH PROSES YANG TIDAK NYAMAN (FILIPI 1:6)
Setiap
manusia pasti pernah melewati fase yang tidak nyaman. Tekanan pekerjaan,
konflik keluarga, perjuangan melawan penyakit, hingga kegagalan rencana hidup
sering kali membawa kita pada sebuah titik nadir. Dalam situasi yang sulit
dipahami tersebut, muncul pertanyaan retoris yang menggugat iman: "Tuhan,
di manakah Engkau?" atau "Mengapa hal ini harus terjadi?"
Rasul
Paulus, penulis surat Filipi, tidak menuliskan kalimat-kalimat penguatan
tersebut dari tempat yang mewah atau nyaman. Ia sedang berada di dalam penjara.
Namun, justru dari balik jeruji itulah lahir sebuah perspektif yang melampaui
logika manusia:
- Tuhan adalah Inisiator dan Penyempurna:
Allah sendiri yang memulai pekerjaan baik dalam diri kita. Karena Dia yang
memulai, Dia pula yang bertanggung jawab menyelesaikannya. Kita hanya
perlu memelihara kepercayaan dan berserah secara total.
- Proses yang Tidak Pernah Berhenti:
Tuhan tidak pernah meninggalkan proses yang telah Ia mulai. Saat kita
merasa terjebak di tengah badai, itu bukan berarti intervensi Tuhan
terhenti. Sebaliknya, sering kali di saat itulah pertumbuhan karakter yang
signifikan sedang terjadi.
Kita
dapat mengibaratkan proses ini seperti benih yang ditanam. Benih tersebut harus
berada di kegelapan, terkubur, dan mengalami tekanan tanah. Namun, justru dalam
kondisi yang tampak menyiksa itulah ia bertunas, menembus permukaan, dan tumbuh
menjadi pohon yang kuat.
Sama
halnya dengan besi yang ditempa; proses pemanasan dan pukulan yang bertubi-tubi
adalah syarat mutlak untuk membentuk logam yang tangguh. Tanpa tekanan, tidak
akan ada pertumbuhan. Tanpa proses, tidak akan ada pembentukan karakter yang
murni. Ketidaknyamanan bukanlah hal yang asing bagi Yesus Kristus. Seluruh
perjalanan hidup-Nya di dunia adalah manifestasi dari ketaatan di tengah
situasi yang sulit:
- Kelahiran yang Sederhana:
Ia lahir di palungan yang hina, bukan di istana yang megah.
- Pelayanan yang Penuh Penolakan:
Selama mengajar, Ia kerap dicerca, difitnah, bahkan diusir oleh mereka
yang tidak menerima kebenaran.
- Pencobaan di Padang Gurun:
Ujian iman dan ketahanan fisik selama empat puluh hari di bawah godaan
Iblis.
- Gethsemani:
Puncak pergumulan batin yang mendalam hingga peluh-Nya menetes bagaikan
darah saat menghadapi cawan penderitaan.
- Penyaliban:
Puncak dari segala rasa sakit fisik dan batin demi menanggung dosa umat
manusia.
Yesus
tidak menghindari penderitaan karena Ia memahami bahwa setiap rasa sakit
merupakan bagian dari "pekerjaan baik" yang harus diselesaikan.
Sebagaimana biji yang harus "mati" dan pecah di dalam tanah agar
dapat bertumbuh, proses yang tidak nyaman berfungsi mengikis ego, memurnikan
motivasi, serta mengajarkan kesabaran dan ketergantungan mutlak pada Tuhan.
Apabila
saat ini kita sedang berada di tengah proses yang menyesakkan, ingatlah janji
dalam Filipi 1:6 dan tetaplah memandang kepada Yesus. Percayalah bahwa
Allah sedang merajut sesuatu yang indah dari sisa-sisa kerapuhan kita.
Sumber
- BERTUMBUH DI TENGAH PROSES YANG TIDAK NYAMAN OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.TH., M.TH
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato,
S.Th


Komentar
Posting Komentar