INVESTASI HIDUPKU (ULANGAN 30:19-20)
Dalam
Ulangan 30:19-20, Tuhan berbicara melalui Musa kepada umat Israel yang sedang
berada di ambang memasuki Tanah Perjanjian. Setelah mengalami perjalanan
panjang bersama Tuhan di padang gurun, mereka dihadapkan pada sebuah pilihan
yang sangat jelas: hidup atau mati, berkat atau kutuk. Tuhan tidak memaksa,
tetapi Ia mengundang mereka untuk memilih hidup, yaitu hidup yang taat
kepada-Nya, hidup yang berkenan di hadapan-Nya, dan hidup yang membawa berkat,
bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi generasi berikutnya. Dari sini
kita belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, melainkan tentang
memilih jalan yang benar dan bermakna.
Dalam
konteks Perjanjian Baru, Yesus juga berbicara mengenai kehidupan yang
bertanggung jawab melalui gambaran seorang hamba dalam Matius 24. Seorang hamba
dipercayakan tugas oleh tuannya untuk mengelola rumah tangga dan melayani
dengan setia sampai tuannya kembali. Ia tidak dipanggil untuk hidup bagi
dirinya sendiri, melainkan untuk menjalankan tugas yang telah dipercayakan
kepadanya. Yesus menegaskan bahwa hamba yang berbahagia adalah mereka yang
didapati setia mengerjakan tugasnya ketika tuannya datang kembali. Ini menjadi
gambaran yang jelas bagi kita bahwa hidup ini adalah sebuah kepercayaan dari
Tuhan yang harus kita jalani dengan tanggung jawab dan kesetiaan.
Namun
dalam kenyataan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam pola hidup yang
berpusat pada diri sendiri. Kita mengejar karier, popularitas, harta, bahkan
sekadar keamanan dan kenyamanan hidup, tanpa menyadari bahwa semua itu bersifat
sementara. Pada akhirnya, yang menjadi pertanyaan bukanlah seberapa banyak yang
kita miliki, tetapi apa yang kita tinggalkan. Apakah hidup kita membawa dampak
yang nyata? Apakah ada kasih yang kita bagikan, pelayanan yang kita lakukan,
doa yang kita panjatkan, dan kesaksian hidup yang memuliakan Tuhan?
Sejarah
iman menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup bagi Tuhan meninggalkan warisan
yang kekal. Rasul Paulus, Stefanus, dan para murid Yesus memberikan hidup
mereka bagi Injil. Mereka tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk
tujuan yang lebih besar. Warisan yang mereka tinggalkan bukanlah harta duniawi,
melainkan iman yang menginspirasi banyak orang hingga hari ini.
Yesus
Kristus sendiri adalah teladan utama tentang bagaimana menjalani hidup yang
benar. Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan
memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Selama pelayanan-Nya,
Ia mencurahkan waktu dan hidup-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa, mengajar,
menyembuhkan, mengampuni, dan membentuk murid-murid. Ia menunjukkan bahwa hidup
yang bernilai adalah hidup yang diberikan bagi orang lain. Bahkan Ia memanggil
kita untuk menjadi terang dunia dan garam dunia, artinya kita dipanggil untuk
membawa dampak, memberi rasa, dan menjadi berkat di mana pun kita berada.
Pada
akhirnya, setiap kita harus menjawab satu pertanyaan yang sangat pribadi:
apakah kita sedang mengerjakan tugas dari Tuhan, atau justru sibuk dengan
agenda kita sendiri? Pertanyaan ini menuntun kita untuk mengevaluasi arah hidup
kita. Tuhan telah memberikan kepada kita waktu, kesempatan, dan berbagai
talenta, dan semua itu adalah sarana untuk melakukan kehendak-Nya.
Karena
itu, marilah kita memilih hidup, yaitu hidup yang bermakna, hidup yang memberi
dampak, dan hidup yang berkenan kepada Tuhan. Apa pun yang kita lakukan bagi
Tuhan dan sesama tidak akan pernah sia-sia. Itulah investasi sejati yang tidak
akan hilang oleh waktu. Warisan iman, kasih, dan kebaikan yang kita taburkan
hari ini akan terus hidup dan membawa berkat, bahkan setelah kita tidak lagi
ada di dunia ini.
Sumber
- INVESTASI HIDUPKU OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar