JANGKAUAN TANPA BATAS (YESAYA 59:1)

 

    Pernahkah kita mencoba meraih sesuatu yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung jari, namun sekeras apa pun usaha yang dilakukan, benda itu tetap tidak tersentuh? Mungkin itu sebuah kunci yang jatuh ke celah sempit, atau dalam refleksi kehidupan yang lebih dalam, itu adalah rasa damai yang terasa sangat jauh dari jangkauan. Banyak orang, mulai dari anak muda yang sedang mencari jati diri hingga orang tua yang bergumul dengan kesehatan atau konflik keluarga, sering merasa bahwa Tuhan itu ada namun seolah tidak mampu menjangkau masalah kita secara spesifik. Muncul perasaan bahwa persoalan kita terlalu memalukan atau sudah terlalu rusak untuk diperbaiki, seakan-akan kita berada di dasar jurang yang sangat dalam sementara tangan Tuhan tidak cukup panjang untuk meraih kita ke atas.

    Namun firman Tuhan dalam Yesaya 59:1 memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Dalam teks aslinya di bahasa Ibrani, kata tangan disebut sebagai Yad yang bukan sekadar merujuk pada fisik daging dan tulang, melainkan simbol dari kekuatan yang bertindak. Nabi Yesaya menggunakan kata Qatsar untuk menggambarkan kondisi kurang panjang yang juga berarti menjadi pendek atau kehabisan tenaga. Melalui pilihan kata ini, Yesaya seolah memberikan teguran lembut bagi iman kita untuk menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah mengalami kondisi kehabisan daya atau jangkauan yang terbatas dalam menolong umat-Nya.

    Jika kita merasa seolah-olah ada jarak yang memisahkan antara diri kita dengan pertolongan-Nya, ayat selanjutnya menjelaskan bahwa penghalang utamanya adalah dosa kita. Masalahnya sama sekali bukan pada kapasitas atau panjangnya tangan Tuhan, melainkan pada dinding pemisah yang kita bangun melalui pelanggaran kita sendiri. Dosa manusia menciptakan jurang yang tak terhingga dalamnya, sehingga secara logika manusia mengira tangan Tuhan telah berhenti menjangkau bumi. Namun di dalam Kristus, Tuhan melakukan sesuatu yang sangat radikal untuk meruntuhkan tembok pemisah tersebut dan memulihkan hubungan yang telah retak.

    Yesus Kristus adalah perwujudan nyata dari tangan Tuhan yang bekerja secara aktif di dunia. Tangan-Nya yang panjang tidak hanya menjangkau dari kejauhan, melainkan turun langsung ke dalam jurang penderitaan manusia. Kita melihat tangan itu memegang alat pertukangan, menyentuh mata orang buta untuk menyembuhkan, dan akhirnya direntangkan dengan paku di kayu salib. Saat tangan Yesus terpaku, pada saat itulah Dia sebenarnya sedang menjembatani jurang yang paling lebar antara Allah dan manusia. Tangan-Nya menjadi jangkauan yang tanpa batas karena Dia rela menembus maut demi meraih setiap jiwa yang terhilang.

    Oleh karena itu, jangan biarkan kegagalan atau dosa tersembunyi membuat kita berpikir bahwa Tuhan telah menyerah atas hidup kita. Tangan Tuhan jauh lebih panjang daripada masa lalu kelam yang kita miliki, sehingga kita diundang untuk datang kepada-Nya apa adanya dengan kerendahan hati. Baik kaum muda maupun orang tua perlu mengakui kebutuhan akan pertolongan ilahi dan berhenti mencoba menyelesaikan badai hidup sendirian. Ketika kita telah menerima pertolongan dan anugerah-Nya, tugas kita selanjutnya adalah menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi sesama, dengan tidak menutup tangan bagi mereka yang sedang terjatuh di sekitar kita.

    Ingatlah bahwa tidak ada jurang yang terlalu dalam bagi Tuhan dan tidak ada kesalahan yang terlalu besar bagi anugerah-Nya yang melimpah. Jika hari ini kita merasa sedang tenggelam dalam beban hidup, sadarilah bahwa tangan-Nya sedang terulur dengan penuh kasih. Tuhan hanya sejauh doa yang tulus, dan kekuatan-Nya tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya. Tangan-Nya benar-benar tidak kurang panjang untuk menyelamatkan setiap kita yang berseru kepada-Nya.

 

Sumber

  • JANGKAUAN TANPA BATAS OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th

Komentar

Postingan Populer