KATIKA AKU DITINGGAL SENDIRI (2 SAMUEL 22:32)
Bayangkan seorang pendaki yang sedang menapaki
gunung yang curam. Di tengah perjalanan, ia terperosok dan hampir jatuh ke
jurang. Dalam situasi genting itu, teman-temannya memilih menyelamatkan diri
dan meninggalkannya. Di saat yang kritis, ia menemukan sebuah batu besar yang
kokoh untuk berpijak. Batu itu menyelamatkannya dari kematian. Batu itu menjadi
tempatnya bersandar dan bertahan sampai pertolongan datang.
Dalam kehidupan, kita pun sering mencari “batu”
untuk bersandar. Kita berharap pada kekuatan diri, harta, atau orang lain.
Namun, sandaran dari dunia ini sering kali rapuh dan tidak bertahan lama. Mazmur
18 merupakan nyanyian syukur Daud setelah melewati berbagai kesulitan dan
peperangan. Dalam ayat 32, Daud berkata, “Sebab siapakah Allah selain dari
TUHAN dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” Ini adalah sebuah pengakuan
iman yang lahir dari pengalaman pribadi bersama Tuhan.
Bagi Daud, Tuhan bukan sekadar konsep, melainkan
realitas yang ia alami. Dalam konteks budaya Ibrani, “gunung batu” melambangkan
perlindungan, kestabilan, dan kekuatan yang tidak tergoyahkan. Dengan menyebut
Tuhan sebagai Gunung Batu, Daud menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya
tempat perlindungan yang sejati. Ia tidak sedang membandingkan Tuhan dengan
allah lain, melainkan menyatakan bahwa tidak ada alternatif selain Tuhan yang
layak dipercaya.
Saudara-saudara,
dalam perjalanan hidup ini, kita sering menjadikan manusia sebagai sandaran.
Kita berharap pada keluarga, sahabat, atau relasi yang kita percaya. Kita
menaruh kebahagiaan pada kesediaan orang lain untuk menolong kita. Namun firman
Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk melihat kembali kepada sumber yang
benar.
Pertama,
jangan mencari sandaran yang rapuh. Sebuah sandaran harus lebih kuat daripada
yang bersandar. Sering kali kita lebih mengandalkan uang, relasi, atau
kemampuan diri. Namun semua itu dapat gagal dan sewaktu-waktu meninggalkan
kita. Kedua, kenali Tuhan secara pribadi. Daud mengenal Tuhan melalui
perjalanan hidupnya. Demikian juga kita dipanggil untuk mengenal Tuhan melalui
doa, firman, dan ketaatan. Hubungan yang dekat dengan Tuhan akan membuat kita
semakin yakin bahwa Dia adalah tempat perlindungan yang sejati. Ketiga, tetap
percaya saat badai hidup datang. Gunung batu tetap kokoh meskipun diterpa hujan
dan angin. Demikian pula Tuhan tetap setia menopang kita dalam setiap keadaan.
Dalam Efesus 2:20 dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah Batu Penjuru, yaitu dasar dari iman kita. Dia adalah satu-satunya jalan keselamatan, dan hanya di dalam Dia kita menemukan perlindungan yang sejati. Dunia mungkin menawarkan banyak “batu” untuk bersandar, tetapi hanya Kristus yang kokoh dan kekal. Karena itu, marilah kita memastikan bahwa seluruh hidup kita berdiri di atas Batu yang teguh itu. Ketika kita bersandar kepada Tuhan, kita tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki kepastian bahwa kita aman di dalam tangan-Nya.
Sumber
- KATIKA AKU DITINGGAL SENDIRI OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar