PROSES KESETIAAN UNTUK BERBUAH (MAZMUR 1:3)
Mari
kita merenungkan sebuah gambaran indah tentang kehidupan yang diberkati dari
Mazmur 1:3 yang menyatakan bahwa orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan itu
seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada
musimnya, dan yang tidak layu daunnya, serta apa saja yang diperbuatnya
berhasil. Ayat ini melukiskan potret seseorang yang hidupnya berakar kuat dalam
Tuhan dan ketaatan kepada-Nya. Gambaran sebagai pohon berbicara tentang sebuah
proses kesetiaan yang berbuah, di mana buah tidak muncul begitu saja secara
instan melainkan melalui tahapan yang panjang. Sama seperti pohon mangga yang
tidak bisa dipaksa berbuah dalam waktu satu minggu karena membutuhkan waktu,
air, dan proses bertahun-tahun untuk tumbuh, kehidupan kita pun memerlukan
ketekunan agar saat musimnya tiba, buah yang dihasilkan terasa manis dan lebat.
Proses
pertama yang perlu kita perhatikan adalah penanaman, di mana pohon tersebut
ditanam secara strategis di tepi aliran air agar akarnya selalu mendapatkan
nutrisi dan kelembapan. Dalam konteks kehidupan kita, hal ini berarti kita
harus menempatkan diri kita di dekat aliran air kehidupan yaitu firman Tuhan
dengan memilih untuk hidup dekat dengan Sang Sumber Kehidupan. Selanjutnya
terdapat proses pertumbuhan yang tidak terlihat namun sangat krusial, di mana
akar semakin dalam, batang semakin kokoh, dan ranting semakin kuat. Sering kali
kita merasa tidak ada perkembangan signifikan saat kita hanya belajar, berdoa,
dan melayani dalam kesunyian, padahal sebenarnya itu adalah masa di mana
kesetiaan kita sedang diuji dan diproses oleh Tuhan agar kita memiliki dasar
yang kuat.
Tahapan
berikutnya adalah menghasilkan buah pada musimnya, yang menegaskan bahwa segala
sesuatu tidak boleh dipaksakan sebelum waktunya. Ada musim untuk berbunga dan
ada musim untuk berbuah, sehingga hal ini menuntut kesabaran serta kesetiaan
kita untuk terus berakar kuat bahkan ketika hasil yang diinginkan belum
terlihat oleh mata. Kesetiaan kita hari ini mungkin tidak langsung membuahkan
hasil nyata, namun proses tersebut sedang mempersiapkan kita untuk penuaian
yang besar pada waktu yang telah ditetapkan Tuhan. Hasil akhirnya adalah
kehidupan yang tidak layu daunnya dan berhasil, yang berarti kesetiaan pada
sumber kehidupan membuat kita tetap segar dan tidak mudah goyah di tengah
tantangan, sehingga apa yang kita kerjakan membuahkan keberhasilan menurut
rencana dan kehendak Allah.
Kesetiaan
adalah kunci utama dalam perjalanan iman kita, bukan sekadar kesetiaan yang
heboh atau besar-besaran setiap saat, melainkan kesetiaan dalam hal-hal kecil,
rutinitas iman, dan keteguhan untuk terus berakar pada firman Tuhan. Jika kita
melihat pada teladan Kristus, selama tiga puluh tahun pertama hidup-Nya di
dunia, Yesus hidup dalam kesederhanaan sebagai tukang kayu tanpa panggung
maupun mukjizat, namun Dia tetap setia sepenuhnya kepada kehendak Bapa.
Meskipun pelayanan publik-Nya hanya berlangsung selama tiga tahun, dampak yang
dihasilkan bersifat abadi bagi seluruh umat manusia karena Dia tidak
tergesa-gesa mencari pengakuan instan melainkan setia sampai akhir di kayu
salib.
Melalui pengorbanan dan kesetiaan Yesus, kita semua akhirnya menerima buah keselamatan yang kekal. Oleh karena itu, mari kita terus setia dalam hal-hal kecil, senantiasa mencari wajah Tuhan, setia menabur kebaikan, dan sabar menunggu waktu-Nya yang sempurna. Seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, kesetiaan kita pada akhirnya akan membuahkan hasil pada musimnya serta membawa keberhasilan dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Jika Yesus sendiri menjalani proses selama tiga puluh tahun sebelum memulai pelayanan-Nya, maka kita pun harus bertanya pada diri sendiri apakah kita cukup sabar dengan proses yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita saat ini.
Sumber
- PROSES KESETIAAN UNTUK BERBUAH OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
- YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penyusun:
Ev.
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar