TEGURAN ITU BAIK (MATIUS 14:4)

    Pernahkah kita merasa hati seolah terketuk saat mendengar firman Tuhan, namun kita justru segera berdalih bahwa pesan tersebut ditujukan untuk orang lain dan bukan untuk diri kita sendiri? Padahal, bisa jadi saat itulah Allah sedang mengetuk pintu hati kita secara pribadi, sementara kita justru sibuk menutupnya rapat-rapat. Kita dapat belajar dari kisah dalam Matius 14:4 ketika Yohanes Pembaptis dengan berani menegur Raja Herodes karena perbuatannya yang menikahi istri saudaranya. Yohanes tidak gentar menghadapi kekuasaan demi menyatakan kebenaran, bahkan meskipun pada akhirnya ia harus kehilangan nyawa dengan cara dipenggal. Namun, sayangnya Herodes memilih untuk menutup telinga dan membungkam suara kebenaran tersebut daripada harus mengakui kesalahannya di hadapan Tuhan.

    Refleksi ini membawa kita pada pertanyaan mendalam mengenai sikap hati kita sendiri saat ini. Apakah kita lebih suka mendengar hal-hal yang hanya enak di telinga dan memanjakan perasaan, ataukah kita berani bersikap terbuka ketika firman Tuhan mulai menusuk hati kita yang paling dalam? Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:19 mengingatkan kita agar jangan memadamkan Roh. Sering kali kita tidak menyadari bahwa teguran Roh Kudus dapat datang melalui berbagai cara, baik melalui pembacaan firman, situasi hidup yang menekan, maupun melalui sesama manusia. Namun, ironisnya saat teguran itu terasa menyakitkan, kita cenderung melindungi diri dengan berkata jangan menghakimi kepada orang yang menegur, padahal teguran tersebut sebenarnya adalah tanda kasih Allah yang tidak ingin kita terus berjalan dalam kekeliruan.

    Kita harus memahami bahwa firman Tuhan bukanlah sekadar kumpulan kata-kata manis yang bersifat menghibur belaka. Sebagaimana tertulis dalam Ibrani 4:12, firman Allah itu hidup, kuat, dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun. Firman itu mampu menembus sampai ke bagian paling dalam dari diri kita, menjangkau tempat-tempat tersembunyi di mana kita sering kali berusaha bersembunyi dari kenyataan diri sendiri. Meskipun firman itu tajam, kita perlu mengingat bahwa Yesus adalah pribadi yang paling tajam sekaligus paling penuh kasih. Ia memang menegur keras orang-orang Farisi, tetapi Ia juga sangat mengasihi orang-orang berdosa. Ia tidak pernah takut menyatakan kebenaran, namun Ia selalu melakukannya dengan motif kasih yang murni demi keselamatan jiwa manusia.

    Hari ini, Yesus masih terus mengetuk pintu hati kita masing-masing, bukan dengan tujuan untuk menghukum, melainkan agar kita sampai pada pertobatan yang sungguh-sungguh. Ia rindu agar kita tidak lagi hidup dengan mengenakan topeng atau sekadar mengaku mengasihi Allah padahal hati kita lebih mencintai dunia. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri secara jujur apakah kita sedang menutup telinga terhadap teguran Roh Kudus dan hanya ingin mendengar ajaran yang menyenangkan hati saja. Seperti yang diperingatkan dalam 2 Timotius 4:3, akan datang waktunya orang tidak lagi dapat menerima ajaran sehat dan hanya mencari guru-guru yang memuaskan keinginan telinga mereka. Mari kita miliki keberanian untuk membiarkan firman Tuhan mengubah dan memurnikan hidup kita kembali.

Sumber

  • TEGURAN ITU BAIK OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer