BANGKIT DAN JALANI HIDUP BARU (ROMA 6:4)
Coba kita melihat sekeliling.
Mungkin ada daun-daun kering yang berguguran di halaman. Tampaknya sederhana, daun
itu sudah mati. Namun pernahkah kita menyadari bahwa dari daun yang membusuk
itulah justru muncul tunas yang baru? Hidup baru lahir dari sesuatu yang
tampaknya telah berakhir.
Atau ingatkah kita akan kisah
dalam keluarga? Mungkin ada paman atau kakek yang pernah jatuh bangkrut,
berbuat kesalahan, dan dianggap tidak berdaya. Tetapi justru dari kegagalan
itu, ia belajar menjadi rendah hati, menjadi bijaksana, bahkan mampu menyelamatkan
anak cucunya dari kesalahan yang sama. Itulah makna Paskah yang sesungguhnya:
hidup yang muncul setelah kematian.
Sekarang, mari kita bertanya
kepada diri sendiri: apakah kita masih suka “berziarah ke kuburan”? Bukan
kuburan sungguhan, melainkan kuburan masa lalu kita sendiri.
Kuburan itu mungkin bernama:
- “Pemarah”, sehingga anak-anak takut
kepada kita, atau
- “Orang tua gagal”, karena kehidupan anak
kita tidak berjalan baik, atau
- “Sudah terlalu tua”, sehingga kita merasa
tidak lagi berguna bagi Tuhan.
Setiap hari, kita duduk di
kuburan itu. Kita meratapi diri, menyesali masa lalu, dan membiarkan rasa
bersalah menyayat hati. Akibatnya, kita hidup tanpa arah, karena identitas kita
masih melekat pada batu nisan itu: “Di sinilah si pemarah,” “di sinilah si
gagal.”
Saudara-saudara, di masa
Paskah ini, inilah waktunya kita berhenti hidup di kuburan masa lalu! Paskah
bukan hanya tentang Yesus yang bangkit dari kubur-Nya. Paskah adalah undangan
pribadi bagi kita untuk bangkit dari kubur masa lalu kita.
Mari kita membuka Roma 6:4:
“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan
dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara
orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang
baru.”
Perhatikan kata “hidup
yang baru.” Ini bukan sekadar memperbaiki yang lama. Bukan sekadar menambal
atau merenovasi. Ini adalah hidup yang benar-benar baru dengan kualitas yang
berbeda. Tuhan tidak hanya memperbaiki kita; Dia memberikan kita hati yang
baru. Jika dahulu kita pemarah, sekarang kita diberi hati yang sabar. Jika
dahulu kita egois, sekarang kita diberi hati yang mau berbagi.
Masa lalu, ketika kita
serahkan kepada Tuhan, bukan lagi menjadi akhir cerita. Justru masa lalu itu
menjadi pupuk—tanah yang subur—bagi Tuhan untuk menumbuhkan sesuatu yang baru
dan indah dalam hidup kita.
Karena itu, hari ini di
hadapan Tuhan, mari kita menyadari dua hal:
Pertama, masa lalu apa yang
masih sering kita kunjungi dalam pikiran kita? Apakah label “gagal” masih kita
tempel di dada, padahal Tuhan Yesus sudah memberikan kita identitas yang baru?
Kedua, jika Tuhan sudah
menjanjikan hidup yang baru, tujuan baru apa yang bisa kita mulai minggu ini?
Mungkin hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil ketika kita masih “terkubur”
dalam masa lalu. Misalnya:
- Minggu ini, saya mau mulai menjadi
pendengar yang baik bagi pasangan, tanpa memotong pembicaraan.
- Minggu ini, saya mau belajar mendengar
orang tua tanpa membantah.
- Minggu ini, saya mau kembali membuka
Alkitab bersama keluarga, membaca satu ayat, dan berdoa bersama.
Saudara-saudara, kubur Yesus
sudah kosong, karena Dia hidup! Sekarang biarlah kubur masa lalu kita juga
kosong. Tidak perlu lagi diziarahi. Tidak perlu lagi ditangisi. Tinggalkan masa
lalu itu.
Beranikah kita saat ini juga
berbisik kepada Tuhan:
“Tuhan, bersama-Mu yang bangkit, aku juga bangkit dari… (sebutkan dalam hati:
kepahitan, kemalasan, trauma…).”
Dan:
“Tuhan, sekarang aku mau hidup dengan tujuan baru. Dengan kekuatan-Mu, aku mau
menjadi… (sebutkan tujuanmu: suami yang sabar, ibu yang penuh sukacita, anak
yang taat…).”
Keluarga yang dikasihi Tuhan,
kebangkitan Kristus bukanlah berita usang. Kebangkitan-Nya tetap menjadi kabar
baik sampai hari ini. Karena kebangkitan-Nya, kita bisa berubah. Kita bisa
bangkit. Kita bisa memulai hidup yang baru.
Sumber
- BANGKIT
DAN JALANI HIDUP BARU OLEH Pdt. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd
- YOUTUBE
GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB
GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penulis
Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar
Posting Komentar