BANGUNAN HIDUPKU (IBRANI 3:4)

 

    Setiap orang sedang membangun sesuatu dalam hidupnya. Ada yang membangun karier, keluarga, usaha, maupun pelayanan. Semua itu terlihat baik dan penting, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah semua yang kita bangun benar-benar berdiri di atas fondasi yang kuat. Sebab sekuat apa pun bangunan terlihat dari luar, jika fondasinya rapuh, maka ia tidak akan bertahan ketika guncangan datang.

    Surat kepada orang Ibrani mengingatkan bahwa ahli bangunan dari segala sesuatu adalah Allah. Pada masa itu, jemaat hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Mereka mengalami penganiayaan, ujian iman, bahkan godaan untuk meninggalkan Kristus. Dalam situasi seperti itu, mereka diperhadapkan pada pilihan besar, apakah tetap berpegang pada iman atau mulai membangun hidup dengan cara dunia. Ada yang mulai mengandalkan aturan manusia, mencari kenyamanan sementara, dan mengejar pengakuan, sehingga perlahan-lahan fondasi rohani mereka menjadi goyah.

    Di tengah kondisi tersebut, kebenaran yang harus dipegang adalah bahwa Yesus Kristus adalah dasar yang sejati. Ia bukan sekadar teladan hidup yang baik, melainkan batu penjuru yang kokoh bagi seluruh bangunan kehidupan kita. Membangun hidup tanpa Kristus sama seperti mendirikan bangunan di atas pasir, yang mudah runtuh saat badai datang. Sebaliknya, ketika hidup dibangun di atas Kristus, ada kekuatan yang tidak tergoyahkan, karena Dia adalah kebenaran yang kekal.

    Apa pun yang sedang kita bangun hari ini, semuanya harus dimulai dari kebenaran firman Tuhan. Kehidupan yang berakar pada firman akan menghasilkan arah yang jelas dan tujuan yang benar. Hal ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membangun kebiasaan untuk datang kepada Tuhan setiap pagi dalam doa dan firman, bukan langsung terbawa oleh arus dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, iman juga dinyatakan melalui kesaksian hidup, melalui sikap, perkataan, dan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Gereja pun bukan sekadar tempat ibadah mingguan, tetapi ruang di mana iman dibentuk dan dikuatkan. Selain itu, hidup yang dibangun di atas Kristus akan selalu menghasilkan buah kasih yang nyata kepada sesama.

    Pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa besar yang kita bangun di mata dunia, melainkan seberapa kokoh fondasi kita di hadapan Allah. Bangunan hidup kita mungkin tidak terlihat megah, tetapi jika berdiri di atas Kristus, maka itu memiliki nilai yang kekal. Karena hanya Dia yang layak menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita bangun.

    Dalam perjalanan membangun hidup tersebut, ada satu hal penting yang tidak bisa diabaikan, yaitu pengendalian diri. Firman Tuhan dalam Roma mengingatkan agar kita tidak membiarkan dosa memerintah dalam tubuh kita. Di zaman sekarang, godaan hadir dengan sangat mudah dan cepat. Melalui media sosial, hiburan, dan berbagai tawaran dunia, manusia terus dihadapkan pada keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dari Tuhan. Dalam hitungan detik, hati dapat terseret oleh hal-hal yang tidak membangun, bahkan merusak kehidupan rohani.

    Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan jemaat di Roma pada masa itu. Mereka hidup di tengah budaya yang sarat dengan hedonisme, penyembahan berhala, dan kerusakan moral. Mereka tergoda untuk kembali kepada kehidupan lama mereka sebelum mengenal Kristus. Oleh karena itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh lagi hidup di bawah kuasa dosa. Mereka telah menerima identitas baru di dalam Kristus, sehingga cara hidup mereka pun harus mencerminkan perubahan tersebut.

    Yesus Kristus adalah Tuhan atas hidup kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia telah membebaskan manusia dari kuasa dosa. Karena itu, panggilan untuk tidak membiarkan dosa memerintah bukan sekadar larangan, melainkan undangan untuk hidup di bawah pemerintahan Kristus. Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, maka keinginan daging tidak lagi berkuasa. Kemenangan atas dosa bukan berasal dari kekuatan manusia, tetapi dari karya Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup dalam ketaatan.

    Hari ini, bentuk dosa mungkin terlihat lebih modern, tetapi hakikatnya tetap sama, yaitu keinginan yang berusaha mengambil alih kendali hidup. Keserakahan, iri hati, kebiasaan buruk, gosip, hingga kecanduan akan hal-hal tertentu adalah contoh bagaimana dosa berusaha memerintah manusia. Semua itu berusaha menggantikan posisi Tuhan dalam kehidupan seseorang.

    Karena itu, setiap kita perlu merenungkan dengan jujur, siapa yang sebenarnya mengendalikan hidup kita saat ini. Apakah diri sendiri, keinginan sesaat, atau Kristus. Hidup orang percaya seharusnya sepenuhnya berada di bawah kendali Tuhan, karena hanya Dia yang layak memerintah.

    Ketika hidup dibangun di atas fondasi yang benar dan dikendalikan oleh Kristus, maka kehidupan itu akan berdiri teguh dan tidak mudah goyah. Kita tidak hanya membangun sesuatu yang sementara, tetapi sesuatu yang memiliki nilai kekal. Oleh sebab itu, marilah kita memilih untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus, Dia yang telah terlebih dahulu memilih dan mengasihi kita.


 Sumber

  • BANGUNAN HIDUPKU OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer