BEBAS (ROMA 8:1)

 

Pernahkah kita merasa dihantui oleh suara di dalam hati setelah melakukan kesalahan? Suara itu berkata, “Kamu gagal lagi,” atau, “Kamu tidak akan pernah berubah.” Suara ini sering muncul setelah kita kehilangan kesabaran, melukai orang yang kita kasihi, atau jatuh pada dosa yang sama berulang kali.

Tanpa sadar, kita seperti berada di ruang sidang. Kita menjadi terdakwa, saksi, sekaligus hakim atas diri sendiri. Dan vonis yang kita jatuhkan hampir selalu sama: bersalah. Bahkan lebih dari itu, kita seolah menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi diri kita sendiri.

Namun firman Tuhan menyatakan sesuatu yang sangat berbeda. Dalam Surat Roma 8:1 tertulis: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”

Kata “penghukuman” di ayat ini bukan sekadar teguran ringan. Dalam bahasa aslinya, kata ini merujuk pada vonis akhir dari pengadilan tertinggi, hukuman yang tidak bisa dibatalkan. Tetapi Rasul Paulus dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada penghukuman lagi. Artinya, vonis itu sudah diselesaikan sepenuhnya.

Di kayu salib, Yesus Kristus telah menanggung seluruh hukuman atas dosa kita. Melalui pengorbanan-Nya, hutang kita dilunasi sepenuhnya. Kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa karya penebusan itu sempurna dan tuntas.

Jika Hakim Agung telah membebaskan kita, mengapa kita masih memilih untuk memenjarakan diri dalam rasa bersalah?

Bayangkan seorang anak kecil yang tidak sengaja memecahkan vas kesayangan ibunya. Sang ibu tidak marah, melainkan memeluk anak itu dan berkata bahwa tidak apa-apa karena ia tahu anaknya tidak sengaja dan yang terpenting adalah anak itu tidak terluka.

Namun anak itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan bertahun-tahun kemudian, ia masih melihat dirinya sebagai anak yang memecahkan vas. Ia hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang sebenarnya sudah lama diampuni.

Sering kali, kita pun seperti anak itu. Allah, Bapa kita, sudah mengampuni dan menerima kita. Namun kita terus mengingat kesalahan masa lalu dan membiarkan luka itu melukai kita berulang kali. Rasa bersalah memang memiliki fungsi seperti alarm yang memperingatkan adanya bahaya. Ia mendorong kita untuk sadar dan bertobat. Tetapi setelah kita datang kepada Kristus dan menerima pengampunan-Nya, rasa bersalah itu seharusnya tidak lagi menguasai hidup kita. Jika terus berlanjut, itu bukan lagi suara Tuhan, melainkan sesuatu yang melemahkan iman kita.

Hari ini, kita bisa mengambil langkah iman yang sederhana. Renungkan satu hal yang masih membuat kita merasa dihukum. Bawa itu dalam doa dan katakan, Tuhan Yesus, Engkau telah menanggung penghukuman ini di kayu salib. Aku percaya pada pengampunan-Mu. Karena Engkau telah mengampuniku, aku juga memilih untuk mengampuni diriku sendiri. Percayalah bahwa dosa yang telah diampuni tidak lagi berkuasa atas hidup kita. Itu tidak lagi mendefinisikan siapa kita.

Kebangkitan Kristus bukan hanya kemenangan atas maut. Itu juga merupakan pernyataan bahwa setiap surat hutang dan setiap tuntutan terhadap kita telah dibatalkan. Dalam Kristus, status kita bukan lagi terdakwa, melainkan orang yang dibebaskan.

Firman Tuhan kembali menegaskan dalam Surat 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Karena itu, mari kita menjalani hidup bukan sebagai tawanan rasa bersalah, tetapi sebagai orang-orang merdeka. Kita dipanggil untuk berjalan dalam identitas baru sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus, dikasihi, dan dipulihkan.

 

Sumber

  • BEBAS OLEH Pdt. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG:  https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer