HANYA PERLU BERKAT-NYA? (LUKAS 17:17-18)

 

    Kisah tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus memberikan pelajaran yang sangat kuat tentang hati manusia. Dari sepuluh orang yang menerima kesembuhan, hanya satu yang kembali untuk mengucap syukur. Sembilan lainnya pergi begitu saja, seolah melupakan siapa yang telah memulihkan mereka. Pertanyaan sederhana namun mendalam pun muncul: ke mana yang sembilan itu? Jawabannya jelas, mereka tidak kembali karena lupa kepada Pribadi yang telah menyembuhkan mereka.

    Gambaran ini sering kali sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bayangkan seorang anak kecil berusia lima tahun yang dengan penuh kerinduan menanti ayahnya pulang kerja. Ia berdiri di depan pintu, matanya terus memandang ke kejauhan, menunggu sosok yang ia kasihi. Ketika sang ayah akhirnya tiba, anak itu berlari dengan penuh sukacita, memeluk ayahnya erat-erat, seolah melepas rindu yang tertahan.

    Namun momen itu berubah ketika sang ayah mengeluarkan sesuatu dari tasnya, yaitu makanan kesukaan anak tersebut. Dengan penuh kegembiraan, anak itu segera mengambil pemberian itu dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia begitu fokus menikmati hadiah tersebut hingga melupakan ayahnya yang masih berdiri di dekat pintu. Sang ayah hanya tersenyum, karena baginya yang terpenting adalah melihat anaknya bahagia.

    Kisah sederhana ini mencerminkan sikap yang sering muncul dalam kehidupan rohani. Tidak jarang manusia datang kepada Tuhan hanya untuk meminta sesuatu. Ketika berkat itu diberikan, perhatian pun beralih kepada berkat tersebut, bukan lagi kepada Tuhan yang memberi. Tanpa disadari, relasi dengan Tuhan menjadi hal yang dikesampingkan.

    Padahal, melalui kehidupan Yesus, kita melihat teladan yang berbeda. Yesus tidak datang hanya untuk memberikan mukjizat, makanan, atau kesembuhan semata. Ia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dalam banyak kesempatan, Yesus justru menjauh dari keramaian untuk bersekutu dengan Bapa-Nya. Ia menunjukkan bahwa yang utama bukanlah berkat, melainkan relasi.

    Ajaran Yesus pun menegaskan hal ini dengan sangat jelas. Ia mengajarkan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Ini berarti hubungan dengan Allah harus menjadi pusat kehidupan, bukan sekadar sarana untuk mendapatkan sesuatu.

    Pada akhirnya, setiap orang dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apa yang menjadi prioritas dalam hidup ini? Apakah hanya berkat yang dicari, ataukah Tuhan itu sendiri yang menjadi tujuan utama. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana seseorang menjalani iman dan relasinya dengan Tuhan setiap hari.


 Sumber

  • HANYA PERLU BERKAT-NYA? OLEH EV. YOGO ISMANTO, S.E., S.Th., M.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer