SAAT KAKIKU TAK SANGGUP LAGI (2 SAMUEL 22:33)
Pernahkah
kita berjalan begitu jauh hingga kaki terasa tak lagi sanggup melangkah? Tubuh
lelah, hati pun remuk. Dalam perjalanan hidup, kita kerap melewati jalan yang
panjang, terjal, penuh batu dan duri. Ada titik di mana kita berkata, “Aku
sudah tidak kuat lagi.” Namun justru pada titik itulah kita mulai menyadari
bahwa ada tangan Tuhan yang menopang.
Daud
memahami betul pergumulan seperti itu. Ia pernah dikejar musuh, hidup di padang
gurun, dan merasakan kesendirian yang begitu dalam. Namun di tengah keadaan
yang sulit, ia tetap dapat berkata bahwa Allah adalah tempat pengungsiannya
yang kuat dan yang membuat jalannya rata. Bagi Daud, Tuhan bukan sekadar tempat
perlindungan biasa. Pada zamannya, pengungsian bukan hanya tempat singgah,
melainkan sebuah kubu pertahanan yang kokoh, tempat seseorang berlindung ketika
kekuatan telah habis dalam peperangan. Tempat itu sulit ditembus oleh musuh,
sering kali berupa gua batu yang kuat dan aman. Demikianlah Daud memandang
Tuhan, sebagai tempat untuk kembali ketika dunia melelahkan dan pelarian hidup
menguras tenaga. Tuhan menjadi sumber pemulihan, tempat di mana jiwa yang letih
mendapatkan kekuatan kembali.
Daud
juga menyadari bahwa jalan hidupnya tidak pernah mudah. Jalannya tetap terjal,
berbatu, dan berliku. Rasa lelah tetap ada, tetapi Tuhanlah yang menegakkan
langkahnya sehingga ia tetap dapat berjalan. Kekuatan itu bukan berasal dari
dirinya sendiri, melainkan dari Tuhan yang menopang setiap langkahnya.
Dalam
kehidupan kita hari ini, kelelahan sering kali membawa kita pada perasaan bahwa
doa terasa hampa dan iman mulai goyah. Namun justru dalam kelemahan itu, kita
diajak untuk datang kepada Tuhan. Tidak perlu malu mengakui kelemahan, karena
di sanalah kuasa Tuhan dinyatakan dengan nyata. Jalan kita mungkin panjang,
tetapi kita tidak pernah berjalan sendirian.
Yesus
sendiri pernah berjalan di jalan penderitaan menuju Golgota sambil memikul
salib. Dalam kelelahan-Nya sebagai manusia, Ia merasakan beban yang begitu
berat hingga seorang bernama Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu memikul
salib-Nya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat memahami arti kelelahan
manusia. Hari ini, ketika kita merasa tidak sanggup lagi melangkah, Yesus hadir
menopang, memikul, dan menuntun kita sampai pada tujuan.
Ada
juga masa dalam hidup ketika tangan yang dahulu kuat mulai melemah. Dulu kita
mampu menghadapi berbagai hal dengan penuh keyakinan, tetapi seiring waktu,
masalah datang silih berganti, beban hidup semakin berat, dan kekuatan kita
tidak lagi seperti dulu. Gambaran ini seperti seorang prajurit yang terlalu
lama berada di medan perang. Setiap hari ia mengangkat senjata dan bertahan,
tetapi pada suatu titik, tangannya tak lagi mampu mengangkat pedang. Ia melihat
musuh mendekat, tetapi kekuatannya telah habis.
Demikian
pula dalam kehidupan, kita menghadapi peperangan yang berbeda. Bukan perang
fisik, melainkan pergumulan ekonomi, tekanan dalam pelayanan, sakit penyakit,
atau doa yang terasa belum terjawab. Kita tetap berusaha kuat, tetapi kekuatan
itu perlahan memudar.
Daud
menggambarkan hal ini dengan sangat dalam. Dalam pemahaman budaya Ibrani,
tangan melambangkan kekuatan, kemampuan, dan kuasa seseorang. Ketika Daud
berkata bahwa Tuhan melatih tangannya untuk bertempur, ia menyadari bahwa
kekuatannya bukan berasal dari dirinya sendiri. Justru ketika ia lemah, Tuhan
yang bekerja dan melatihnya. Tuhan tidak selalu menghilangkan peperangan,
tetapi Ia memperlengkapi umat-Nya untuk menghadapinya.
Daud
bahkan mengatakan bahwa ia mampu melenturkan busur tembaga, sesuatu yang secara
manusia hampir mustahil dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan yang
memberi kekuatan, apa yang tidak mungkin bagi manusia menjadi mungkin. Busur
tembaga melambangkan situasi yang keras dan tidak dapat diatasi dengan kekuatan
manusia. Namun ketika Tuhan melatih tangan Daud, ia mampu melakukan hal yang
melampaui batas kemampuannya.
Begitu
pula dengan kita. Ketika tangan kita mulai lemah, bukan berarti semuanya telah
berakhir. Kelemahan justru menjadi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Kita belajar
untuk tidak menyerah, tetapi bersandar kepada Tuhan. Kita belajar menghadapi
hidup dengan cara Tuhan, melalui doa, firman, dan kebergantungan penuh
kepada-Nya.
Yesus
Kristus menjadi teladan yang sempurna. Di kayu salib, tangan-Nya dipaku dan
tampak tidak berdaya. Namun justru melalui kelemahan itulah datang kemenangan
terbesar bagi manusia, yaitu keselamatan. Apa yang terlihat sebagai kekalahan
ternyata menjadi kemenangan yang kekal.
Karena
itu, ketika kita merasa lelah dan tidak sanggup lagi, ingatlah bahwa Tuhan
tidak pernah lelah menopang kita. Ia adalah tempat perlindungan kita, sumber
kekuatan kita, dan Dia yang melatih tangan kita untuk tetap bertahan. Kita
tidak pernah berjuang sendirian. Apa pun yang sedang melemahkan kita hari ini,
percayalah bahwa Tuhan sanggup memberikan kekuatan baru, bahkan melampaui apa
yang kita bayangkan.
Sumber
- SAAT
KAKIKU TAK SANGGUP LAGI OLEH SDRI. JELIA FRISDA PURBA
- YOUTUBE
GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB
GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penulis
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar