SENGAJA MENCARI KESALAHAN (MATIUS 7:3)

 

Kadang tanpa kita sadari, kita bisa menjadi “pencari kesalahan”. Ada rasa puas ketika berhasil menemukan kekurangan orang lain. Kita begitu cepat melihat apa yang salah pada orang lain, tetapi sering kali lambat menyadari kekurangan diri sendiri. Sikap seperti ini bukan hal baru; sejak dahulu, ini sudah menjadi pergumulan manusia.

Yesus menegur hal ini dengan sangat jelas dalam Matius 7:3, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Gambaran yang digunakan Yesus sangat kuat. Selumbar hanyalah serpihan kecil, sedangkan balok adalah kayu besar. Melalui perumpamaan ini, Yesus menunjukkan betapa mudahnya kita membesar-besarkan kesalahan kecil orang lain, sementara kita mengabaikan kesalahan yang jauh lebih besar dalam diri sendiri.

Perkataan ini dicatat dalam Injil Matius, yang ditulis oleh Matius, seorang mantan pemungut cukai yang kemudian menjadi murid Yesus Kristus. Injil ini ditujukan terutama kepada orang-orang Yahudi agar mereka memahami bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Ayat ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit, sebuah pengajaran penting di mana Yesus menekankan bahwa kehidupan yang berkenan kepada Allah tidak hanya terlihat dari tindakan luar, tetapi juga dari sikap hati. Karena itu, Ia menegur kecenderungan manusia untuk menghakimi orang lain tanpa terlebih dahulu memeriksa dirinya sendiri.

Menariknya, selama pelayanan-Nya, Yesus sendiri sering menjadi sasaran orang-orang yang mencari-cari kesalahan-Nya. Para pemimpin agama seperti orang Farisi dan ahli Taurat berkali-kali mencoba menjebak-Nya. Dalam Matius 12:10, misalnya, mereka bertanya apakah boleh menyembuhkan pada hari Sabat. Pertanyaan itu bukan didorong oleh kerinduan untuk memahami kebenaran, melainkan untuk mencari alasan menuduh Yesus. Di sinilah kita melihat bahwa Yesus, Anak Allah yang kudus, rela hidup di tengah dunia yang penuh kecurigaan dan tuduhan. Meskipun terus diselidiki dan disalahpahami, Ia tetap merespons dengan kebenaran, kasih, dan hikmat.

Sikap orang-orang pada zaman Yesus itu masih sangat relevan hingga hari ini. Kita pun bisa dengan mudah mengkritik, menilai, dan menyoroti kekurangan orang lain. Tanpa disadari, kita menjadi pribadi yang lebih fokus pada hal-hal negatif. Padahal Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Ia mengundang kita untuk terlebih dahulu memeriksa hati kita sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Ketika kita belajar rendah hati dan memperbaiki diri, kita akan lebih mampu memahami dan mengasihi sesama.

Karena itu, daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, kita dipanggil untuk melihat kebaikan dalam diri mereka dan berusaha menjadi berkat. Dunia sudah penuh dengan kritik dan penghakiman. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang membawa kasih, pengertian, dan kerendahan hati. Jika Yesus yang sempurna saja tetap sabar ketika dicari-cari kesalahan-Nya, maka kita yang penuh keterbatasan seharusnya memilih untuk mengasihi daripada menghakimi. Saat kita fokus memperbaiki diri di hadapan Tuhan, hati kita akan menjadi lebih tenang dan hubungan kita dengan sesama pun akan semakin dipulihkan.

 

 Sumber

  • SENGAJA MENCARI KESALAHAN OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer