SUKA MENGELUH? (BILANGAN 11:6)

 

    Ada orang yang hidupnya dikelilingi berkat, tetapi hatinya tetap pahit. Ada yang dibesarkan dalam kelimpahan, namun mulutnya terus mengeluh. Keadaan luar tidak selalu menentukan sikap hati seseorang. Bahkan dalam kondisi yang baik sekalipun, manusia bisa tetap merasa tidak puas.

    Hal ini juga terlihat dalam perjalanan bangsa Israel. Allah dengan ajaib memelihara mereka di padang gurun yang keras dan berbahaya. Ia menyediakan manna setiap hari sebagai makanan. Namun, alih-alih bersyukur, mereka justru mengeluh. Mereka mengingat makanan di Mesir seperti ikan, timun, melon, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih, lalu berkata bahwa tidak ada apa-apa selain manna yang mereka lihat. Sikap ini menunjukkan betapa mudahnya manusia melupakan kebaikan Tuhan dan lebih fokus pada apa yang tidak dimiliki.

    Sering kali, kita pun jatuh dalam sikap yang sama. Kita lebih mudah memikirkan hal-hal negatif daripada melihat berkat yang sudah ada. Kita menggerutu ketika menghadapi kekecewaan atau kehilangan, padahal di saat yang sama Tuhan tetap bekerja dalam hidup kita. Tanpa disadari, keluhan dapat mengalihkan perhatian kita dari kasih dan pemeliharaan Allah yang tidak pernah berhenti.

    Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk melihat hidup dari sudut pandang iman, yaitu melalui Yesus Kristus. Mengeluh bukan hanya soal ketidakpuasan, tetapi juga mencerminkan kurangnya kepercayaan kepada Tuhan. Ketika kita bersungut-sungut, kita seolah meragukan bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan bahwa Ia tetap memegang kendali atas hidup kita.

    Firman Tuhan juga menunjukkan bahwa sikap bersungut-sungut bukanlah hal sepele. Dalam Bilangan 11:1, Tuhan menunjukkan ketidaksenangan-Nya terhadap bangsa yang terus mengeluh. Ini menjadi peringatan bahwa hati yang tidak bersyukur dapat menjauhkan kita dari hubungan yang benar dengan Tuhan.

    Sebaliknya, Yesus Kristus memberikan teladan yang sempurna. Dalam penderitaan yang paling berat, Ia tidak mengeluh. Di kayu salib, Ia tidak memberontak, melainkan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapa dengan berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dalam ketaatan dan kepercayaan-Nya, kita melihat iman yang sejati, bahkan di tengah penderitaan.

    Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus menebus kita dari dosa, termasuk dosa mengeluh dan tidak percaya. Karena itu, kita tidak lagi hidup berdasarkan cara pandang dunia yang sempit. Kita dimampukan untuk bersyukur dalam segala keadaan. Bukan karena semua yang terjadi selalu baik, tetapi karena kita percaya bahwa Allah tetap baik dalam segala sesuatu.

    Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Ini berarti bahkan dalam kesulitan sekalipun, ada rencana Tuhan yang sedang digenapi.

    Ketika kita tergoda untuk mengeluh, ingatlah dua hal. Pertama, ada peringatan bahwa sikap bersungut-sungut tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kedua, ada kasih karunia Kristus yang membebaskan kita dan mengubah hati kita menjadi hati yang bersyukur.

    Hidup tanpa keluhan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hidup dengan iman yang percaya bahwa Tuhan selalu setia. Karena itu, marilah kita menjalani setiap hari dengan hati yang penuh syukur, menyadari bahwa dalam segala hal, Tuhan tetap bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita.

Sumber

  • SUKA MENGELUH? OLEH EV. BENALIA HULU, S.Pd.K., M.Pd
  • YOUTUBE GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penyusun:

Ev. Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer