TIDAK SEMUA (AMSAL 27:6)
Tidak
semua yang tersenyum kepadamu adalah teman, dan tidak semua yang mengomentari
atau menegurmu adalah musuh. Dalam kehidupan, kita sering menilai orang hanya
dari sikap luar. Ketika seseorang ramah dan memuji kita, kita langsung
menganggap dia berpihak pada kita. Sebaliknya, ketika ada orang yang mengkritik
atau menegur, kita mudah merasa diserang dan menganggap dia sebagai lawan.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang tersenyum tetapi
menyimpan maksud yang tidak baik, dan ada juga orang yang berani menegur justru
karena ia peduli dengan hidup kita.
Alkitab
juga mengingatkan kita tentang hal ini. Dalam Amsal 27:6 tertulis, “Seorang
kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara
berlimpah-limpah.” Ayat ini terdapat dalam Kitab Amsal, yang merupakan kumpulan
hikmat kehidupan yang sebagian besar dikaitkan dengan Salomo. Kitab ini ditulis
untuk mengajarkan kebijaksanaan praktis dalam menjalani hidup sehari-hari. Pada
zaman Israel kuno, hikmat dianggap sangat penting karena menolong seseorang
membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Melalui peribahasa ini,
Alkitab mengajarkan bahwa teguran dari seorang sahabat yang tulus mungkin
terasa menyakitkan, tetapi sebenarnya membawa kebaikan. Sebaliknya, pujian yang
berlebihan dari orang yang tidak tulus bisa saja menyesatkan.
Kebenaran
ini juga terlihat dalam kehidupan Yesus Kristus. Dalam pelayanan-Nya, banyak
orang yang datang kepada-Nya dengan kata-kata manis tetapi memiliki maksud
tersembunyi. Beberapa pemimpin agama memuji atau bertanya kepada Yesus dengan
sopan, tetapi sebenarnya mereka sedang mencoba menjebak-Nya. Namun di sisi
lain, Yesus juga sering memberikan teguran yang keras kepada murid-murid-Nya
karena Ia mengasihi mereka dan ingin mereka bertumbuh dalam kebenaran. Dari
sudut pandang kristologi, kita melihat bahwa Yesus adalah kebenaran itu
sendiri. Ia tidak mencari pujian manusia, tetapi membawa terang yang membuka
isi hati manusia. Di hadapan Kristus, kemunafikan tidak bisa disembunyikan, dan
teguran yang Ia berikan selalu bertujuan memulihkan.
Renungan
ini mengajarkan kita untuk memiliki hati yang bijaksana. Jangan terlalu cepat
percaya hanya karena seseorang bersikap manis, tetapi juga jangan langsung
menolak orang yang berani menegur kita. Kadang-kadang Tuhan memakai teguran
orang lain untuk membentuk karakter kita. Yang lebih penting adalah belajar
melihat hati dan tujuan di balik perkataan seseorang.
Karena
itu, mintalah hikmat kepada Tuhan agar kita mampu membedakan mana sahabat yang
tulus dan mana kata-kata yang hanya menyenangkan telinga. Belajarlah memiliki
kerendahan hati untuk menerima teguran yang membangun, dan pada saat yang sama
tetap berhati-hati terhadap pujian yang menipu. Ketika kita berjalan bersama
Tuhan dan belajar dari teladan Kristus, kita akan memiliki kebijaksanaan untuk
melihat orang lain dengan lebih jernih dan menjalani hubungan dengan hati yang
lebih dewasa.
Sumber
- TIDAK
SEMUA OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE
GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB
GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penulis
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar