TUHAN SUDAH MATI! (AYUB 2:9)
“Tuhan
sudah mati!” Kalimat itu terdengar seperti teriakan seorang ateis, tetapi
sebenarnya keluar dari mulut seorang istri yang hatinya hancur. Ia berdiri di
hadapan kenyataan pahit yang sulit diterima: suaminya, Ayub, duduk di atas
tumpukan abu, tubuhnya dipenuhi borok, sementara sepuluh anak mereka telah
dikuburkan dan seluruh harta lenyap dalam sekejap. Baginya, langit terasa bisu.
Jika Tuhan masih hidup, bagaimana mungkin penderitaan sekejam ini menimpa orang
yang begitu saleh?
Perempuan
ini bukan sosok yang jahat. Ia hanya manusia yang mencapai titik nadir dalam
hidupnya. Ia tidak sanggup lagi menyaksikan suaminya menggaruk luka dengan
pecahan beling, menahan rasa sakit yang seolah tidak berujung. Dalam
keputusasaan, ia merasa Tuhan telah “absen” dari hidup mereka. Maka ia pun
meledak, menyuruh Ayub mengakhiri semuanya dengan mengutuk Tuhan dan mati.
Baginya, kematian tampak lebih ringan daripada penderitaan yang terus
berlangsung tanpa jawaban.
Kisah
ini dicatat dalam Kitab Ayub, khususnya pada pasal 2 ayat 9. Kitab ini termasuk
dalam sastra hikmat yang membahas pertanyaan mendasar tentang penderitaan orang
benar. Ayub digambarkan sebagai pribadi yang saleh dan hidupnya berkenan kepada
Tuhan. Namun dalam waktu singkat, ia kehilangan segalanya. Anak-anaknya
meninggal, kekayaannya habis, dan tubuhnya diserang penyakit yang menyiksa.
Cerita ini bukan sekadar kisah tragis, melainkan refleksi mendalam tentang iman
yang diuji ketika hidup berada dalam kegelapan.
Di
tengah situasi tersebut, respons Ayub menjadi sangat penting. Dalam pasal 2
ayat 10, ia menegaskan bahwa manusia tidak bisa hanya menerima yang baik dari
Tuhan, tetapi menolak yang buruk. Ayub tidak menyangkal rasa sakitnya. Ia
merasakannya secara nyata dan mendalam. Namun ia menolak menyimpulkan bahwa
Tuhan sudah tidak ada. Di atas tumpukan abu, di tengah kehilangan yang begitu
besar, ia tetap memilih untuk percaya.
Pengalaman
ini menemukan gema yang kuat dalam kehidupan Yesus. Ia adalah pribadi yang
paling memahami penderitaan manusia. Ia mengalami penolakan, penghinaan, dan
kematian di kayu salib. Bahkan pada saat-saat terakhir, Ia berseru seolah-olah
ditinggalkan. Namun justru melalui penderitaan itulah karya keselamatan
terjadi. Dari sana terlihat bahwa penderitaan tidak selalu berarti ketiadaan
Tuhan. Dalam banyak hal, justru di tengah penderitaan itulah Tuhan sedang
bekerja dengan cara yang tidak selalu bisa dipahami manusia.
Karena
itu, ketika hidup terasa menghantam tanpa henti, wajar jika muncul pikiran
bahwa Tuhan tidak ada atau tidak peduli. Namun perasaan manusia bukanlah ukuran
keberadaan Tuhan. Tuhan tidak mati hanya karena doa belum dijawab atau keadaan
belum berubah. Iman yang sejati sering kali dibentuk bukan di puncak
keberhasilan, melainkan di tengah kehancuran yang sunyi.
Jika
hari ini seseorang sedang marah, kecewa, atau merasa Tuhan jauh, itu bukan
akhir dari cerita. Bisa jadi justru di saat seperti itulah proses pembentukan
sedang berlangsung. Di balik layar kehidupan yang tampak kacau, Tuhan tetap
bekerja, membentuk karakter dan iman yang lebih dalam daripada yang bisa
dilihat saat ini.
Sumber
- TUHAN
SUDAH MATI! OLEH EV. SHINTA LESTARI ZENDRATO, S.Th
- YOUTUBE
GSRI TOMANG: https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
- WEB
GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/
Penulis
Shinta Lestari Zendrato, S.Th
.png)

Komentar
Posting Komentar