LABEL ATAU SERTIFIKAT (2 KORINTUS 5:17)

 

    Pernahkah kita memberi label pada orang lain atau bahkan pada diri sendiri. Misalnya, kita berkata bahwa seseorang adalah pemarah, pernah tidak jujur, atau dalam hati kita menganggap diri sebagai pribadi yang selalu gagal. Label seperti itu sering kali melekat kuat, seolah menjadi identitas tetap, padahal sesungguhnya keadaan seseorang dapat berubah. Hal ini serupa dengan stiker lama yang masih menempel pada sebuah kotak, meskipun isi di dalamnya sudah berbeda. Atau seperti pakaian lama yang sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi kita saat ini, tetapi masih terus dipakai.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 5 :17 menyatakan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Ungkapan ciptaan baru menunjukkan bahwa perubahan yang Tuhan kerjakan bukan sekadar perbaikan atau pembaruan sebagian, melainkan pembentukan yang sepenuhnya baru. Tuhan tidak hanya memperbaiki kehidupan manusia yang rusak, tetapi menciptakan kehidupan yang benar benar baru di dalam Dia.

Gambaran ini dapat dipahami melalui seni Jepang yang dikenal sebagai Kintsugi. Dalam seni tersebut, benda yang pecah tidak dibuang, melainkan disusun kembali dan diperindah dengan lapisan emas atau logam mulia lainnya. Hasilnya bukan sekadar benda yang diperbaiki, tetapi menjadi karya seni yang memiliki nilai lebih tinggi daripada sebelumnya. Demikian pula Tuhan bekerja dalam kehidupan manusia. Ia mengambil setiap bagian kehidupan yang pernah hancur, penuh dosa, dan kegagalan, lalu menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang indah dan bermakna. Identitas lama tidak lagi menentukan nilai diri seseorang, karena Tuhan telah memberikan identitas yang baru.

Namun, sering kali manusia masih terikat pada label lama. Meskipun Tuhan telah menghapusnya, pikiran dan perkataan kita masih mengulang identitas yang lama. Kita masih menyebut diri sebagai pribadi yang lemah, tidak mampu berubah, atau terikat pada masa lalu. Padahal, jika Tuhan telah menetapkan identitas baru, seharusnya kita hidup sesuai dengan kebenaran tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mulai mengganti cara pandang terhadap diri sendiri. Pikiran yang negatif perlu digantikan dengan kebenaran firman Tuhan. Ketika muncul keraguan atau ketakutan, ingatlah bahwa di dalam Kristus terdapat kuasa, kasih, dan pengharapan yang baru. Selain itu, diperlukan langkah nyata untuk melepaskan label lama, baik melalui doa maupun tindakan simbolis sebagai bentuk komitmen iman. Hal ini menolong hati untuk benar benar melepaskan masa lalu dan menerima pembaruan dari Tuhan.

Selanjutnya, setiap orang perlu belajar memperkenalkan diri sesuai dengan identitas yang baru. Bukan lagi sebagai pribadi yang terikat masa lalu, melainkan sebagai ciptaan baru di dalam Kristus. Identitas ini bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah dari Tuhan melalui karya keselamatan dalam Yesus Kristus.

Dengan demikian, kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga memberikan identitas yang sepenuhnya baru bagi setiap orang yang percaya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk terus hidup dalam label lama. Setiap orang dipanggil untuk menerima dan menjalani kehidupan sebagai ciptaan baru yang telah dipulihkan oleh Tuhan.


Sumber

·       LABEL ATAU SERTIFIKAT |OLEH Pdt. YOGI TJIPTOSARI, B.Th., M.Pd (GEMBALA SIDANG)

  • YOUTUBE GSRI TOMANG:  https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer