TIDAK ADA PENDERITAAN YANG SIA-SIA (KELUARAN 3:7)

 

    Seorang petani menabur benih di ladangnya. Selama berminggu minggu ia menyiram, membersihkan rumput liar, dan merawat tanah dengan tekun. Namun, pada awalnya ladang itu tetap terlihat kosong dan kering. Orang lain mungkin meragukan usahanya dan berkata bahwa semua itu sia sia. Meskipun demikian, petani itu tetap setia merawat ladangnya. Hingga pada waktunya, tunas mulai tumbuh dan membuktikan bahwa benih yang ditabur tidak pernah sia sia. Gambaran ini serupa dengan penderitaan dalam hidup manusia. Ada masa ketika usaha, air mata, dan pergumulan terasa tidak menghasilkan apa pun. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan yang luput dari perhatian-Nya.

Dalam Keluaran 3 ayat 7, Tuhan berbicara kepada Musa melalui peristiwa semak yang menyala. Pada saat itu, bangsa Israel telah mengalami perbudakan di Mesir selama ratusan tahun. Mereka hidup dalam tekanan, penderitaan fisik, dan keputusasaan. Namun di tengah keadaan tersebut, Tuhan menyatakan bahwa Ia melihat penderitaan umat-Nya, mendengar seruan mereka, dan mengetahui kesengsaraan yang mereka alami. Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan belas kasihan, melainkan awal dari tindakan penyelamatan Allah yang nyata dalam sejarah umat-Nya.

Ayat ini memberikan pemahaman yang mendalam bahwa Tuhan tidak pernah lalai terhadap penderitaan umat-Nya. Ia adalah Allah yang melihat setiap air mata, bahkan yang jatuh dalam kesunyian. Ia mendengar setiap doa dan keluh kesah, termasuk yang tidak terucapkan dengan kata kata. Lebih dari itu, Tuhan mengetahui penderitaan manusia secara pribadi dan mendalam. Pengetahuan-Nya bukan sekadar informasi, melainkan keterlibatan hati yang penuh kasih.

Dalam kehidupan sehari hari, setiap orang dapat mengalami berbagai bentuk penderitaan, seperti sakit, kehilangan, kegagalan, atau kesepian. Dalam situasi seperti itu, mudah bagi seseorang untuk merasa ditinggalkan atau tidak diperhatikan. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa Ia tetap bekerja di balik setiap keadaan. Penderitaan sering kali menjadi sarana pembentukan karakter, penguatan iman, dan jalan bagi rencana Tuhan yang lebih besar untuk dinyatakan. Sebagaimana bangsa Israel yang akhirnya dibebaskan dari perbudakan dan dipimpin menuju tanah perjanjian, demikian pula Tuhan menyediakan jalan keluar bagi setiap orang yang berharap kepada-Nya.

Puncak dari pengertian bahwa penderitaan tidak sia sia terlihat dalam karya Yesus Kristus. Ia mengalami penderitaan, penolakan, dan kematian di kayu salib bukan karena kesalahan-Nya, melainkan sebagai wujud kasih bagi manusia. Salib menjadi lambang penderitaan yang membawa kemenangan. Melalui penderitaan-Nya, manusia memperoleh keselamatan dan pengharapan yang kekal.

Dengan demikian, Keluaran 3 ayat 7 menegaskan bahwa Tuhan adalah Allah yang dekat, peduli, dan bertindak. Ia bukan pribadi yang jauh dan tidak terjangkau, melainkan Tuhan yang hadir dalam setiap pergumulan hidup manusia. Oleh karena itu, ketika menghadapi penderitaan, setiap orang diajak untuk tetap percaya bahwa Tuhan melihat, mendengar, dan mengetahui segala sesuatu yang dialami. Tidak ada penderitaan yang sia sia jika dijalani bersama Tuhan, karena di dalamnya Ia sedang mempersiapkan pembebasan dan kemuliaan yang lebih besar.


 

Sumber

·       TIDAK ADA PENDERITAAN YANG SIA-SIA OLEH Ev. FERONI HULU, S.Th

  • YOUTUBE GSRI TOMANG:  https://youtu.be/UtG8W0Ju6Ac?si=QXk1MAMJsh1O70en
  • WEB GSRI TOMANG: https://www.gsrit.id/

Penulis

Shinta Lestari Zendrato, S.Th


Komentar

Postingan Populer